Energi

Danantara Mulai Pembangunan Fasilitas PSEL Pertama di Bali Senilai Rp3 Triliun

44
×

Danantara Mulai Pembangunan Fasilitas PSEL Pertama di Bali Senilai Rp3 Triliun

Sebarkan artikel ini

DENPASAR – PT Danantara Investment Management (DIM) melalui entitas anaknya, PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, Bali, pada Rabu (8/7). Proyek strategis bernilai investasi Rp3 triliun ini menjadi tonggak penting dalam upaya nasional menangani krisis sampah di destinasi wisata utama tersebut.

Fasilitas PSEL ini dirancang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari. Proyek ini telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan menekan kebutuhan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 80 persen.

Pemerintah juga telah menyiapkan rencana ekspansi serupa untuk wilayah Bogor dan Bekasi. Langkah ini dilakukan guna melengkapi jaringan tiga fasilitas PSEL di seluruh Indonesia.

Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa pembangunan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya adalah menyelesaikan persoalan sampah nasional secara komprehensif.

Fasilitas di Denpasar akan mengadopsi teknologi moving grate incinerator. Teknologi ini telah teruji secara global dan memenuhi standar emisi ketat, yakni European Industrial Emissions Directive (EU IED).

Rosan menegaskan bahwa pelaksanaan proyek ini dilakukan dengan standar tata kelola tertinggi. Pihak Danantara berkomitmen menjaga kecepatan pembangunan sekaligus kehati-hatian dalam setiap tahap operasional.

Data global menunjukkan sektor PSEL sangat prospektif dengan nilai pasar mencapai USD46 miliar pada 2025. Hal ini menjadikan investasi di sektor pengolahan sampah menjadi krusial bagi keberlanjutan energi.

CEO DIM, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa proyek ini kini memasuki fase konstruksi. Pelaksanaannya melibatkan mitra strategis, yakni PT Weiming Nusantara Bali New Energy sebagai Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP).

Setelah beroperasi penuh, listrik yang dihasilkan diproyeksikan mampu menyuplai kebutuhan bagi 100.000 rumah tangga di Bali. Penggunaan teknologi ini diyakini mampu memangkas emisi hingga 80 persen dibandingkan metode open dumping.

Pandu menambahkan bahwa fasilitas ini akan mengurangi emisi karbon hingga 640.000 ton CO2 per tahun. Langkah ini menjadi kontribusi nyata bagi upaya pengurangan dampak perubahan iklim di Indonesia.

Guna menjamin keberlanjutan operasional, DIM telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (Power Purchase Agreement) dengan PT PLN (Persero). Kesepakatan ini memastikan seluruh daya listrik yang dihasilkan terserap ke dalam jaringan distribusi PLN.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang turut mengawal proyek ini, menyoroti pentingnya deregulasi. Pemerintah sebelumnya telah menyederhanakan 33 aturan, termasuk Perpres dan Inpres, yang selama ini menghambat investasi di sektor pengelolaan sampah.

Zulkifli mencatat bahwa proses perizinan di sektor ini sebelumnya sangat birokratis dan memakan waktu hingga 11 tahun. Melalui penyederhanaan regulasi, hambatan yang selama ini memperlambat penyelesaian masalah sampah kini dapat diatasi.

PSEL Bali ditargetkan beroperasi secara komersial pada semester pertama 2028. Namun, pemerintah mendorong percepatan konstruksi agar fasilitas tersebut rampung selambat-lambatnya pada akhir 2027 dengan durasi pengerjaan 15 bulan.