Bursa Saham

Rupiah Melemah, Analis Rekomendasikan Beli Saham Kalbe Farma (KLBF)

44
×

Rupiah Melemah, Analis Rekomendasikan Beli Saham Kalbe Farma (KLBF)

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Prospek saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dinilai masih memiliki daya tarik kuat bagi investor hingga akhir 2026. Meskipun dibayangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, fundamental perusahaan farmasi tersebut dianggap tetap kokoh.

Tekanan utama yang membayangi kinerja Kalbe Farma adalah ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor, khususnya active pharmaceutical ingredients (API). Pelemahan mata uang rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor yang kemudian menekan margin laba perusahaan secara keseluruhan.

Namun, dampak tersebut diperkirakan tidak akan terasa secara signifikan dalam jangka pendek. Kalbe Farma diketahui masih menyimpan persediaan bahan baku dalam jumlah besar yang mampu meredam gejolak harga pasar.

Perusahaan memiliki inventory buffer yang mencukupi untuk kebutuhan produksi selama sekitar 120 hari atau empat bulan ke depan. Strategi ini menjadi bantalan utama dalam menghadapi fluktuasi biaya produksi akibat pelemahan nilai tukar.

Secara teknis, sekitar 50% eksposur valuta asing Kalbe menggunakan dolar AS. Berdasarkan analisis sensitivitas, setiap pelemahan rupiah sebesar Rp 100 terhadap dolar AS berpotensi memangkas margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) sekitar 0,1%.

Bahan baku API dan kemasan sendiri mencakup 70% hingga 75% dari biaya produksi atau setara dengan 35% dari total harga pokok penjualan. Untuk memitigasi risiko, manajemen Kalbe telah memperbesar stok bahan baku sekaligus mendiversifikasi sumber pasokan global.

OCBC Sekuritas memperkirakan margin laba kotor Kalbe akan berada di kisaran 38% pada 2026. Angka ini dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan baku API, terutama untuk produk parasetamol dan obat-obatan saluran pencernaan.

Selain biaya bahan baku, kenaikan harga minyak dunia juga turut menekan biaya distribusi logistik. Meski demikian, manajemen menilai kenaikan beban logistik tersebut masih berada dalam kendali operasional perusahaan.

Untuk menjaga profitabilitas, Kalbe mengambil langkah strategis melalui penyesuaian harga selektif pada segmen Consumer Health dan Nutrisi. Perusahaan juga berupaya meningkatkan efisiensi operasional dengan melakukan pengendalian ketat terhadap beban penjualan, umum, dan administrasi.

Segmen nutrisi menjadi salah satu tumpuan utama dengan fokus pada produk gaya hidup sehat seperti Fitbar, Hydro Coco, dan susu premium Morinaga. Produk-produk ini memiliki ruang penyesuaian harga yang lebih fleksibel dibandingkan segmen obat generik.

Secara konsolidasi, perusahaan menargetkan kenaikan rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) sebesar 5% secara tahunan. Langkah ini diharapkan mampu mengimbangi tekanan biaya yang timbul di tengah kondisi ekonomi makro.

Faktor eksternal seperti inflasi yang terkendali serta potensi penurunan suku bunga menjadi katalis positif bagi daya beli masyarakat. Hal ini diperkirakan akan mendorong permintaan terhadap produk-produk kesehatan dan nutrisi perseroan secara berkelanjutan.

OCBC Sekuritas memproyeksikan pendapatan Kalbe akan mencapai Rp 37,92 triliun pada 2026, atau tumbuh 7,3% dibandingkan realisasi tahun 2025. Sementara itu, laba bersih diproyeksikan tumbuh moderat ke angka Rp 3,75 triliun.

Mayoritas analis pasar tetap memberikan rekomendasi beli untuk saham KLBF. Samuel Sekuritas dan OCBC Sekuritas kompak menetapkan target harga di level Rp 1.000 per saham, sementara Ciptadana Sekuritas memberikan rekomendasi tahan dengan target harga Rp 820.