Industri

Strategi ANTM dan INCO Perkuat Hilirisasi Nikel Indonesia

36
×

Strategi ANTM dan INCO Perkuat Hilirisasi Nikel Indonesia

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Indonesia kini memantapkan langkah dalam transformasi industri nikel nasional melalui akselerasi program hilirisasi strategis. Dengan cadangan bijih nikel mencapai 5,3 hingga 5,9 miliar ton per 2025, pemerintah berupaya menggeser peran Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pemain inti dalam rantai pasok kendaraan listrik (EV) global.

Program hilirisasi ini mencakup pengembangan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari pertambangan, pengolahan bijih, produksi material hingga sel baterai, serta fasilitas daur ulang. Inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan industri EV nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor logam.

Dua perusahaan utama, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), menjadi ujung tombak dalam realisasi ambisi besar ini. Keduanya saat ini tengah menggenjot investasi besar untuk membangun infrastruktur pengolahan nikel yang bernilai tambah tinggi.

Analis menilai prospek jangka panjang industri nikel tetap menjanjikan berkat dukungan kebijakan pemerintah dan meningkatnya permintaan kendaraan listrik global. Namun, tantangan berupa volatilitas harga, kelebihan pasokan global, dan perubahan teknologi baterai tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi.

ANTM saat ini memfokuskan strategi pada pembangunan rantai industri nikel yang utuh. Perusahaan menargetkan produksi bijih nikel mencapai 18,1 juta ton pada 2026, meningkat 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Modal utama Antam terletak pada sumber daya nikel yang mencapai 1,49 miliar wet metric ton (wmt) per 2025. Perusahaan bekerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL) dan konsorsium BUMN untuk membangun ekosistem baterai dengan investasi hampir US$ 6 miliar.

Proyek tersebut mencakup pembangunan smelter pirometalurgi dan hidrometalurgi, pabrik bahan katoda, hingga fasilitas daur ulang baterai. Strategi ini diharapkan mampu menciptakan ekonomi sirkular yang efisien bagi industri kendaraan listrik masa depan.

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengambil langkah strategis melalui transformasi menjadi penyedia bahan baku baterai rendah karbon. Perusahaan mengandalkan pasokan energi dari pembangkit listrik tenaga air untuk menekan jejak karbon dalam proses produksinya.

Saat ini, INCO tengah mengerjakan tiga proyek strategis yang tergabung dalam Indonesia Growth Project (IGP). Proyek tersebut meliputi IGP Sorowako Limonite, IGP Morowali, dan IGP Pomalaa yang menelan investasi bernilai miliaran dolar AS.

Komitmen INCO terhadap keberlanjutan menarik minat investor internasional. Perseroan baru saja memperoleh fasilitas pinjaman terkait keberlanjutan (sustainability-linked loan) senilai US$ 750 juta yang mengalami kelebihan permintaan hingga 1,7 kali.

Pendanaan tersebut akan dialokasikan untuk mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan bijih limonit menjadi nikel untuk kebutuhan baterai. Fokus utama perusahaan adalah memastikan produk yang dihasilkan memiliki standar lingkungan tinggi yang kini menjadi syarat utama pasar global.

Secara keseluruhan, kedua emiten tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi nikel di Indonesia bukan sekadar peningkatan kapasitas produksi. Transformasi ini juga menjadi langkah krusial dalam membangun daya saing industri nasional di tengah transisi energi global yang semakin kompetitif.