JAKARTA – Peringkat daya saing global Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026 mengalami penurunan signifikan, yakni merosot ke posisi 48 dari total 70 negara yang disurvei. Capaian ini menunjukkan pelemahan daya saing yang cukup drastis jika dibandingkan dengan posisi Indonesia pada tahun 2024 yang sempat menyentuh peringkat 27.
Penurunan peringkat ini terjadi di tengah tren penguatan daya saing mayoritas negara di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan laporan IMD, skor keseluruhan Indonesia tercatat sebesar 57,6 dari 100 poin, yang merupakan angka terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Merespons hasil laporan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan segera melakukan evaluasi mendalam. Pihaknya berencana mengidentifikasi faktor-faktor utama yang menyebabkan anjloknya posisi Indonesia.
Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan tim khusus untuk menangani hambatan atau bottlenecking dalam sistem ekonomi nasional. Tim tersebut akan meninjau kembali variabel-variabel yang menyebabkan penurunan daya saing di tingkat global.
Laporan IMD World Competitiveness Ranking 2026 menggunakan empat indikator utama dalam penilaiannya. Keempat indikator tersebut meliputi performa ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur.
Setiap indikator didukung oleh lima sub-indikator yang dianalisis untuk mengukur daya saing di tengah tekanan geopolitik global yang meningkat. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Indonesia mengalami kemunduran pada tiga pilar utama, yakni efisiensi bisnis, efisiensi pemerintah, dan infrastruktur.
Sementara itu, indikator performa ekonomi Indonesia dinilai cenderung stabil. Namun, stabilitas ini tidak mampu menahan laju penurunan peringkat akibat lemahnya poin pada sektor pendukung lainnya.
Berbeda dengan Indonesia, negara-negara tetangga justru menunjukkan performa yang impresif. Singapura berhasil menempati posisi pertama, diikuti oleh Hong Kong di posisi kedua, menggeser Swiss yang sebelumnya berada di puncak klasemen.
Malaysia mencatatkan kenaikan signifikan dari peringkat 23 menjadi 15, sementara Korea Selatan naik dari posisi 27 ke 21. Thailand juga memperbaiki posisinya dari peringkat 30 menjadi 26, dan Vietnam yang baru masuk dalam daftar langsung menempati posisi 27.
Laporan tersebut menyoroti sejumlah tantangan krusial yang kini membayangi perekonomian Indonesia. Tantangan tersebut mencakup dampak ekonomi global yang mengancam ketahanan energi nasional serta pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan.
Selain itu, laporan itu juga menyoroti masalah realokasi belanja pemerintah dan keterbatasan sumber pendanaan. Kualitas infrastruktur serta kompetensi sumber daya manusia yang dinilai belum memadai turut menjadi faktor penghambat daya saing nasional di mata investor internasional.

