Bursa Saham

Wall Street Melemah Akibat Aksi Jual Saham AI dan Lonjakan Minyak

47
×

Wall Street Melemah Akibat Aksi Jual Saham AI dan Lonjakan Minyak

Sebarkan artikel ini

NEW YORK – Indeks utama bursa Wall Street mencatatkan pelemahan pada perdagangan Selasa (7/7) waktu setempat akibat gelombang aksi jual investor terhadap saham-saham sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Koreksi ini terjadi di tengah sentimen negatif dari lonjakan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 130,76 poin atau 0,25% ke posisi 52.925,15, meski sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi intraday. Nasdaq Composite mencatat penurunan lebih dalam sebesar 1,16% ke level 25.818,69, sementara S&P 500 melemah 0,45% menjadi 7.503,85.

Direktur Riset FBB Capital Partners, Mike Bailey, menilai bahwa ekspektasi pasar terhadap sektor AI saat ini telah melampaui kemampuan fundamental perusahaan. Ketimpangan antara valuasi yang tinggi dengan realitas kinerja operasional menjadi pemicu utama pelemahan harga saham.

Bailey menyatakan bahwa rotasi modal dari saham berbasis AI menuju sektor lain kemungkinan akan terus berlanjut. Kondisi ini mencerminkan sikap investor yang mulai berhati-hati dalam menempatkan aset di tengah valuasi yang dianggap terlalu mahal.

Dampak aksi jual ini terlihat jelas pada emiten semikonduktor. Saham Micron memimpin pelemahan dengan koreksi 4,7%, disusul oleh pelemahan pada KLA, Marvell Technology, Broadcom, dan AMD. VanEck Semiconductor ETF (SMH) bahkan mencatatkan penurunan lebih dari 3%.

Di sisi lain, investor mulai mengalihkan modal ke sektor kesehatan, keuangan, dan saham teknologi berkapitalisasi besar. Saham Eli Lilly mencatatkan kenaikan hampir 3%, sementara JPMorgan Chase dan Microsoft turut menguat di tengah tekanan pasar yang luas.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah setelah serangan terhadap kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar di dekat Selat Hormuz. Peristiwa ini memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan.

Harga minyak mentah Brent ditutup naik 3% ke level US$ 74,16 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat hampir 3% menjadi US$ 70,44 per barel. Tren kenaikan harga minyak berlanjut setelah Amerika Serikat mencabut pengecualian penjualan minyak Iran.

Tekanan pada sektor AI sebelumnya telah menjalar ke pasar Asia, di mana indeks Kospi Korea Selatan merosot hampir 5%. Penurunan tersebut dipicu oleh aksi jual saham Samsung Electronics yang anjlok hampir 7% meski perusahaan mencatatkan lonjakan laba kuartal kedua.

Analis Vital Knowledge, Adam Crisafulli, menilai reaksi pasar terhadap Samsung mencerminkan tingginya ekspektasi investor menjelang musim laporan keuangan. Saat ini, perusahaan dituntut memberikan kinerja luar biasa untuk memenuhi ekspektasi pasar yang sudah sangat tinggi.

Selain faktor fundamental, sentimen pasar juga tertekan oleh laporan mengenai pengembangan cip AI mandiri oleh perusahaan rintisan asal Cina, DeepSeek. Inovasi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan global terhadap pasokan semikonduktor dari pemain besar seperti Nvidia dan Samsung.