Tutup
EkonomiFintechNews

Redenominasi Rupiah: Ekonom Soroti Syarat, Risiko Tetap Mengintai

250
×

Redenominasi Rupiah: Ekonom Soroti Syarat, Risiko Tetap Mengintai

Sebarkan artikel ini
ekonom-wanti-wanti-redenominasi-tanpa-ini-berisiko-gagal
Ekonom Wanti-wanti Redenominasi Tanpa Ini Berisiko Gagal

Jakarta – Rencana redenominasi rupiah berisiko gagal jika tidak disertai kerangka strategis yang matang.

Ekonom mengingatkan, perdebatan publik sebaiknya fokus pada kerangka strategis, bukan sekadar “menghapus tiga nol”.

Analis Ekonomi Politik FINE Institute,Kusfiardi,menilai diskusi publik selama ini sering terjebak pada aspek teknis.

Padahal, prasyarat makro, institusional, dan perilaku sangat menentukan keberhasilan redenominasi.

“debat publik soal redenominasi sering berhenti pada tataran kosmetik, yaitu ‘menghapus tiga nol’, tanpa memahami kerangka strategis yang justru menentukan keberhasilannya,” kata Kusfiardi, Rabu (26/11/2025).

Pengalaman internasional menunjukkan, redenominasi sukses jika menjadi bagian dari reformasi komprehensif.

Reformasi ini menyasar kredibilitas negara, stabilitas harga, dan efisiensi sistem transaksi.

“Di banyak negara, redenominasi berhasil ketika ia menjadi bagian dari reform package yang menyasar kredibilitas negara, stabilitas harga, serta efisiensi sistem transaksi,” imbuhnya.

Kusfiardi merujuk studi IMF dan Bank Dunia yang menyebut redenominasi efektif hanya dilakukan di tengah stabilitas harga yang kuat dan kedisiplinan fiskal yang kredibel.

Turki (2005) dan Polandia dinilai sukses setelah membenahi disiplin makro, reformasi lembaga, dan memperkuat kapasitas bank sentral.

Kepercayaan publik adalah prasyarat krusial. Perubahan angka nominal tidak boleh dipersepsikan sebagai sinyal ketidakstabilan atau krisis.

Studi kasus Ghana dan meksiko, serta laporan BIS-CPMI, menunjukkan kapasitas transisi penting.

Kesiapan infrastruktur TI, integrasi digital, dan koordinasi pelaku ritel membedakan redenominasi yang mulus dan yang memicu disrupsi harga.

“Kami melihat bahwa kesiapan transisi digital dan sistem pembayaran adalah faktor penentu yang tidak boleh diabaikan,” jelas Kusfiardi.

Aspek perilaku (behavioral risks) sering luput dari perdebatan publik.

Studi ECB mengenai transisi euro menunjukkan risiko seperti rounding effect, persepsi inflasi, dan bias psikologis.

komunikasi publik yang tidak konsisten dan tidak berbasis data dapat memperburuk kegagalan.