Tutup
Jasa KeuanganNewsPerbankanRegulasi

Kerjasama Pemprov Sumbar-Bank Mandiri Bisa Jatuhkan Bank Nagari

871
×

Kerjasama Pemprov Sumbar-Bank Mandiri Bisa Jatuhkan Bank Nagari

Sebarkan artikel ini
Foto: banknagari

Padang – Anggota Komisi III DPRD Sumatera Barat Hidayat menyayangkan adanya wacana Pemprov Sumbar untuk bekerjasama dengan Bank Mandiri terkait pengelolaan kas daerah.

Dia menilai, wacana itu bakal mengamputasi Bank Nagari yang selama ini mengelola kas daerah tersebut.

Tanggapan ini muncul terkait beredarnya Surat Undangan Sekdaprov Nomor 120/440/Pem.Otda-2022 tentang Pembahasan Perjanjian Kerjasama antara Pemprov Sumbar dengan PT Bank Mandiri Area Padang tentang Pengelolaan Kas Daerah pada Kamis (4/8) besok.

“Selaku anggota DPRD Sumbar, Saya bisa menyatakan bahwa bila benar rapat tersebut untuk percepatan kerjasama antara Pemprov dan Bank Mandiri untuk pengelolaan kas daerah Pemprov Sumbar yang (selama) ini dilakukan oleh Bank Nagari sungguh tak bisa diterima akal sehat,” kata Hidayat di Padang, Rabu (3/8).

Menurut Hidayat, pengalihan itu sama saja mengskreditkan Bank Nagari yang selama ini menyetorkan dividen ke kas daerah.

“Saya tidak mengerti maksud dan tujuan gubernur yang memiliki niat kerjasama pengelolaan kas daerah dengan Bank Mandiri. Itu mengkerdilkan Bank Nagari baik secara materil maupun moril. Apa kontribusi Bank Mandiri kepada Pemprov Sumbar. Berbeda dengan Bank Nagari, kontribusinya jelas memberikan setoran keuntungan terhadap pendapatan daerah dalam bentuk deviden, berbeda dengan Bank Mandiri sebagai BUMN jelas tidak ikut menyetorkan keuntungannya ke kas daerah,” sebut Hidayat.

Selama ini, menurutnya, transaksi keuangan daerah dilakukan dan dilayani oleh Bank Nagari. Apabila kerjasama tersebut dialihkan ke Bank Mandiri, baik secara seluruhnya maupun sebagian, diyakini akan berpotensi menghilangkan kepercayaan nasabah.

Dampaknya, bila diteruskan akan berpotensi membuat kinerja keuangan Bank Nagari menurun sehingga pendapatan daerah juga turun.

“Apakah itu yang diinginkan gubernur. Ingat ya, Bank Nagari itu sudah ada sebelum Gubernur Mahyeldi jadi Gubernur Sumbar yang baru menjabat dua tahun ini. Bank Nagari punya sejarah jatuh bangun yang panjang dari beberapa gubernur sebelumnya sehingga saat ini mampu membukukan aset lebih kurang Rp29 triliun,” katanya.

Untuk itu, pihaknya meminta agar Guberur Sumbar tidak melakukan hal tersebut, karena dinilai akan mendapatkan dampak besar bagi daerah, termasuk Bank Nagari itu sendiri.

“Ingat, dari sekian BUMD milik Pemprov Sumbar, hanya Bank Nagari yang sehat dan memberikan keuntungan bagi pendapatan daerah. Sedangkan BUMD yang merugi seperti PT Grafika, PT Balairung tak terlihat ada upaya Gubernur untuk mengurusnya menjadi sehat. Ingat, amanah sebagai Kepala Daerah adalah menjaga, merawat dan mengelola dengan baik atas aset-aset pemda yang diwariskan oleh para pemimpin daerah sebelumnya. Itu amanah konstitusi selain amanah moril yang mesti dilakukan bersama sama termasuk dengan DPRD Sumbar,” pungkas Hidayat.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang paruh kedua tahun 2026. Meski berbagai langkah stabilisasi telah ditempuh oleh Bank Indonesia (BI), sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah secara berkelanjutan masih menghadapi tantangan besar dari faktor eksternal maupun domestik. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,20% secara harian ke level Rp…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memberikan tanggpan atas dampak rencana penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam (SDA). Melalui beleid tersebut, aktivitas ekspor sejumlah komoditas SDA bakal melalui satu pintu. Sekretaris Perusahaan Vale Indonesia, Ranty Astari Rachman mengatakan, pihaknya memahami bahwa pemerintah berencana menerbitkan PP Tata Kelola Ekspor SDA untuk memperkuat tata kelola…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks selama sepekan lalu masih menjadi saham yang paling banyak dijual asing. Aksi jual asing tersebut membuat pergerakan saham emiten big banks kompak ikut menurun. Diantara saham big banks yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), saham yang turun paling tajam adalah saham…