Valuta

Rupiah Tertekan, Simak Proyeksi Nilai Tukar Hari Ini 23 Juli 2026

14
×

Rupiah Tertekan, Simak Proyeksi Nilai Tukar Hari Ini 23 Juli 2026

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat di layar monitor perdagangan
Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Sentimen negatif ini dipicu oleh ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve, serta eskalasi konflik geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026), mata uang Garuda melemah 0,16% ke level Rp 17.917 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat posisi rupiah stagnan di angka Rp 17.909 per dolar AS.

Pasar saat ini tengah mencermati pernyataan terbaru dari Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, terkait prospek suku bunga. Warsh sempat menyoroti tingginya harga komoditas dan ketergantungan kebijakan moneter terhadap produktivitas sektor kecerdasan buatan (AI).

Gangguan pasokan minyak di kawasan Teluk akibat ketegangan militer turut memperkeruh sentimen pasar. Kondisi ini dikhawatirkan memicu lonjakan inflasi di AS, yang pada akhirnya mendorong The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas 78% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Peluang kenaikan suku bunga pada September mendatang juga diproyeksikan berada di kisaran 68%.

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Juli 2026. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga tetap berada di level masing-masing 4,75% dan 6,50%.

BI berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui pemberian insentif untuk menarik arus modal asing. Kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat pendalaman pasar uang serta meningkatkan likuiditas valuta asing di Indonesia.

Kondisi fiskal nasional juga menjadi sorotan setelah APBN mencatatkan defisit sebesar Rp 196,5 triliun hingga akhir Juni 2026. Defisit tersebut setara dengan 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pendapatan negara tercatat mencapai Rp 1.459,4 triliun atau 46,3% dari target tahunan. Di sisi lain, realisasi belanja negara telah mencapai Rp 1.656 triliun, yang mencerminkan belanja masih lebih besar dibandingkan pendapatan.

Faktor geopolitik tetap menjadi beban utama bagi mata uang di pasar negara berkembang. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berlanjut di Timur Tengah terus membayangi stabilitas ekonomi global.

Serangan militer yang terjadi di sejumlah titik strategis, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Yordania, meningkatkan kekhawatiran investor. Hal ini membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke dolar AS.

Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp 17.920 hingga Rp 18.970 per dolar AS. Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan data ekonomi global serta respons otoritas moneter terhadap dinamika tersebut.