Bursa Saham

Penjualan Alat Berat UNTR Turun, Begini Prospek Sahamnya di 2026

2
×

Penjualan Alat Berat UNTR Turun, Begini Prospek Sahamnya di 2026

Sebarkan artikel ini
Alat berat merek Komatsu yang dipasarkan oleh PT United Tractors Tbk di area pertambangan.
Penjualan alat berat Komatsu oleh United Tractors mengalami penurunan sebesar 28,05% hingga Mei 2026.

JAKARTA – PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan perlambatan kinerja operasional yang signifikan sepanjang lima bulan pertama tahun 2026. Penurunan ini dipicu oleh lesunya penjualan alat berat, kontraksi volume produksi batubara, serta kendala perizinan di sektor pertambangan mineral.

Data laporan bulanan perusahaan menunjukkan penjualan alat berat merek Komatsu merosot 28,05% secara tahunan (year on year) menjadi 1.690 unit hingga Mei 2026. Sektor pertambangan, yang menjadi tulang punggung dengan kontribusi 43%, menjadi penyumbang utama penurunan tersebut.

Tidak hanya penjualan unit, kinerja kontraktor tambang melalui PT Pamapersada Nusantara juga mengalami tekanan. Realisasi pengupasan lapisan tanah (overburden removal) tercatat turun 8,43% menjadi 398,6 juta bank cubic meter (bcm).

Produksi batubara untuk pelanggan UNTR ikut terkoreksi sebesar 0,72% menjadi 55,2 juta ton. Sementara itu, penjualan batubara dari anak usaha PT Tuah Turangga Agung juga menyusut 5,63% menjadi 6,20 juta ton.

Di sektor mineral non-batubara, penurunan lebih tajam terjadi pada penjualan emas yang anjlok 87% menjadi 13.000 ounces. Penjualan bijih nikel melalui Stargate turut melemah 10,24% menjadi 797.000 wet metric ton.

Manajemen UNTR merespons kondisi ini dengan memangkas panduan operasional di hampir seluruh segmen usaha. Perusahaan merevisi target penjualan batubara Tuah Turangga Agung hingga 35%, dengan target akhir hanya 7,5 juta ton akibat kendala persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Efisiensi belanja modal (capital expenditure) juga diterapkan dengan memangkas target dari US$ 800 juta menjadi US$ 650 juta. Pemangkasan sebesar 27% ini didominasi oleh pengurangan belanja modal di unit bisnis Pamapersada Nusantara hingga 50%.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penurunan penjualan alat berat dipicu oleh koreksi harga batubara global. Kondisi ini membuat kontraktor tambang cenderung menunda pembelian unit baru atau pembaruan armada.

Faktor cuaca dengan curah hujan tinggi pada awal tahun turut menghambat kinerja operasional di lapangan. Selain itu, penurunan drastis pada penjualan emas bersifat temporer karena adanya pembatasan operasional di Tambang Emas Martabe terkait proses perizinan teknis.

Peluang pemulihan pada semester II-2026 dinilai masih terbuka melalui revisi RKAB yang diharapkan mendorong aktivitas produksi. Peningkatan aktivitas tambang nantinya akan berdampak positif pada permintaan jasa overburden removal serta layanan purna jual alat berat.

Di sisi lain, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menyoroti tantangan regulasi yang lebih ketat. Pemerintah berencana membatasi produksi batubara nasional di kisaran 600 juta ton dan nikel di angka 260 juta ton pada tahun fiskal 2026.

Intervensi pasokan ini diprediksi akan memaksa pelaku tambang mengurangi ekspansi operasional. Hal ini secara langsung berpotensi menekan volume kontrak pertambangan dan permintaan alat berat Komatsu di periode mendatang.

Meski menghadapi tantangan berat, analis tetap memberikan rekomendasi positif bagi saham UNTR. Target harga saham dipatok pada level Rp 29.100 per saham dengan mempertimbangkan diversifikasi bisnis ke depan.

Strategi jangka panjang yang disarankan bagi perusahaan adalah memperkuat lini layanan purna jual sebagai pendapatan stabil. Selain itu, optimalisasi digitalisasi pada peralatan pertambangan dinilai krusial untuk meningkatkan produktivitas serta meminimalkan waktu henti (downtime) operasional.