JAKARTA – PT Bumi Etam Chemical (BEC) resmi memulai langkah strategis hilirisasi batu bara melalui penandatanganan kontrak desain teknis awal (FEED) dan pengadaan, pembangunan, serta pengoperasian (EPCC) untuk proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol. Proyek yang berlokasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur, ini ditargetkan mampu memproduksi 2 juta ton metanol per tahun pada tahap awal.
Presiden Direktur BEC, Rio Supin, menegaskan bahwa seluruh hasil produksi metanol diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata perusahaan dalam menyubstitusi ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol yang masih mendominasi pasar nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kebutuhan metanol nasional mencapai 1,9 juta ton pada 2025. Dari total tersebut, sebanyak 1,3 juta ton atau 68 persen di antaranya masih harus dipenuhi melalui jalur impor.
Ketergantungan impor ini membebani devisa negara hingga US$ 400 juta atau setara dengan Rp 7,1 triliun setiap tahunnya. Rio menyebut ketegangan geopolitik global dan konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga metanol, yang berpotensi terus menggerus devisa negara jika tidak segera diatasi.
Proyek ini merupakan kolaborasi perusahaan patungan antara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC). Investasi yang digelontorkan untuk proyek strategis nasional ini diperkirakan mencapai lebih dari US$ 2,3 miliar atau sekitar Rp 41,5 triliun.
Metanol yang dihasilkan nantinya akan menjadi bahan baku krusial bagi berbagai sektor industri, mulai dari petrokimia, manufaktur, hingga energi. Produk ini juga berperan vital sebagai komponen utama dalam pengembangan biodiesel, terutama dengan adanya kewajiban penerapan B50 di Indonesia mulai Juli 2026.
Seiring dengan meningkatnya persentase penggunaan biodiesel, kebutuhan akan metanol diproyeksikan akan terus melonjak. BEC telah mulai menjajaki kerja sama dengan sejumlah pihak yang berminat menjadi pembeli (offtaker) produk tersebut.
Dalam fase pengembangan ke depan, KPC dan Arutmin berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi hingga mencapai 3,6 juta ton per tahun secara bertahap. Proyek ini direncanakan menggunakan batu bara berkalori rendah sebesar 3.300 kkal per kg GAR sebagai bahan baku utama.
Lokasi proyek yang strategis di pinggir Selat Makassar dipastikan akan memudahkan distribusi produk ke berbagai wilayah di Indonesia. Setelah penandatanganan kontrak FEED dan EPCC, perusahaan akan segera memasuki tahapan rekayasa teknis sebelum memulai konstruksi fisik (groundbreaking).
Pihak manajemen menargetkan tahapan komisioning proyek dapat dilakukan pada 2029. Produksi komersial sebesar 2 juta ton metanol per tahun diproyeksikan mulai berjalan penuh pada 2030 mendatang.
Langkah hilirisasi ini menjadi krusial di tengah fluktuasi harga komoditas global yang menekan ekonomi daerah, termasuk Kalimantan Tengah. Di sisi lain, sektor pertambangan batu bara di Indonesia saat ini tengah menjadi sorotan publik menyusul adanya kasus dugaan korupsi pengadaan pasokan batu bara untuk PLTU dengan taksiran kerugian negara mencapai Rp 5 triliun.






