Jakarta – Tahun 2026 diprediksi menjadi tahun yang menjanjikan bagi sejumlah komoditas global, meskipun sentimen pasar diperkirakan tak jauh berbeda dengan tahun 2025. Logam mulia dan logam industri, seperti emas, perak, dan tembaga, diperkirakan akan menjadi bintang utama.
Analis Komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa kombinasi antara ketegangan geopolitik, kebijakan moneter global, serta lonjakan kebutuhan energi dan infrastruktur akibat perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), akan menjadi pendorong utama bagi ketiga komoditas tersebut.
“Emas masih sangat solid didukung permintaan bank sentral dan memanasnya geopolitik. Perak dan tembaga juga berpeluang melanjutkan tren naik karena kebutuhan besar dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik (EV), hingga pembangunan data center,” jelas Lukman.
Sementara itu, aluminium, baja, timah, dan logam industri lainnya diperkirakan akan mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah China yang berupaya menahan *over-capacity*, sehingga berpotensi menjaga keseimbangan pasokan global dan menopang harga.
Pada tahun 2025, logam mulia menunjukkan kinerja yang dominan. Emas mencatat lonjakan lebih dari 60% *year-to-date* (YtD) hingga sempat menembus rekor US$ 4.500 per ons troi, sedangkan perak melesat hampir 140% YtD berkat kombinasi status *safe haven* dan defisit pasokan industri.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa performa kuat logam mulia di 2025 menjadi fondasi optimisme ke 2026, apalagi didukung ekspektasi suku bunga rendah dan risiko geopolitik yang belum mereda.
Sutopo menambahkan bahwa diversifikasi ke logam mulia dan industri menjadi strategi yang paling masuk akal saat komoditas energi berbasis bensin mulai memasuki fase jenuh akibat transisi ke energi terbarukan.
Namun, sektor komoditas energi diperkirakan masih menghadapi tekanan berat pada tahun 2026. Pengamat komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono, menilai bahwa rencana peningkatan produksi OPEC+ hingga kuartal I-2026 serta tambahan pasokan dari negara non-OPEC akan menahan harga minyak mentah WTI.
“Di sisi permintaan, perlambatan ekonomi China serta percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) turut menekan konsumsi bahan bakar fosil,” jelas Wahyu.
Harga batubara juga mengalami koreksi akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi di China dan India, serta normalisasi rantai pasok global.
Wahyu memperkirakan pasar komoditas energi akan memasuki fase moderasi dan stabilisasi pada tahun 2026. Harga minyak mentah WTI diproyeksikan masih bergerak rendah atau *sideways*, seiring kekhawatiran *oversupply* yang diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026.
Lukman juga menilai sejumlah komoditas utama seperti minyak mentah WTI dan batubara masih akan berada dalam kondisi pasokan berlebih (*oversupply*), sehingga potensi penguatan harga cenderung terbatas.
Dengan berbagai pertimbangan di atas, Wahyu memproyeksi harga emas tetap berada dalam tren menguat pada 2026, di kisaran US$ 4.500 – US$ 5.300 per ons troi. Untuk perak, diperkirakan berada di kisaran US$ 55 – US$ 110 per ons.
Adapun untuk tembaga, prospek 2026 masih cenderung positif sejalan dengan transisi energi dan kebutuhan infrastruktur global. Harga tembaga diproyeksikan berada di kisaran US$ 9.000 – US$ 13.000 per ton.
Sementara itu, Lukman membidik harga minyak mentah WTI akan bergerak melemah di rentang US$ 50 – US$ 55 per barel dan batubara diproyeksikan bergerak di kisaran US$ 90 – US$ 95 per ton.







