Tutup
EkonomiEnergiPerbankan

Ekspor Beralih, Pemerintah Bidik Pasar Minim Konflik

205
×

Ekspor Beralih, Pemerintah Bidik Pasar Minim Konflik

Sebarkan artikel ini
biaya-logistik-melonjak-imbas-perang,-mendag-sasar-ekspor-negara-baru
Biaya Logistik Melonjak Imbas Perang, Mendag Sasar Ekspor Negara Baru

Jakarta – Pemerintah mengambil langkah strategis dengan mengalihkan fokus ekspor ke negara-negara yang minim terdampak konflik geopolitik. Hal ini dilakukan menyusul lonjakan biaya logistik internasional yang mencapai 50-100 persen akibat gangguan jalur perdagangan global.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan,krisis geopolitik memberikan dampak langsung pada rantai pasok dunia.

“Krisis geopolitik itu biasanya akan mengubah peta perdagangan,” ujar Budi di Kantor Kemendag,Jakarta Pusat,Kamis (5/3).

Menurutnya, gangguan pada global supply chain menyebabkan beberapa negara mengalami hambatan ekspor dan impor. Kondisi ini menciptakan celah pasar yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.

Kemendag mengarahkan program business matching bagi pelaku usaha, khususnya UMKM, ke negara-negara yang relatif aman dari konflik.

“Program business matching dengan UMKM akhirnya diarahkan ke negara-negara tersebut,” jelas Budi.

Ia menambahkan, pada Januari lalu, program ini telah menghasilkan transaksi sekitar US$4 juta. Saat ini,Kemendag tengah memetakan pasar di Asia Tenggara dan Afrika untuk mengisi kekosongan pasokan.

UMKM menjadi prioritas karena dinilai lebih fleksibel dalam mencari pasar ekspor baru, terutama untuk transaksi jangka pendek.

pemerintah juga berencana berdiskusi dengan para eksportir untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi,termasuk potensi gangguan bahan baku impor.

“Besok kami akan bertemu para eksportir untuk membahas problem apa saja,” kata Budi.

Jika pengiriman ke pasar tertentu terganggu, pemerintah akan mendorong pelaku usaha untuk mencari pasar alternatif.

Sebelumnya, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) telah memperingatkan potensi kenaikan biaya logistik global akibat konflik di Timur Tengah.

Sekretaris Jenderal ALFI, Trismawan Sanjaya, menyebutkan bahwa biaya logistik global berpotensi naik lebih dari 30 persen jika konflik berlarut-larut.

kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak dunia dan perubahan rute pelayaran yang menambah waktu tempuh dan biaya operasional.

Biaya asuransi kargo dan risiko perang juga meningkat tajam, yang turut mendongkrak ongkos logistik global.

Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi vital,dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global melintas di sana.

Data pelayaran menunjukkan penurunan volume kapal hingga 86 persen setelah eskalasi konflik, menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran perdagangan internasional.