Tutup
Regulasi

Bappenas Percepat Hilirisasi Industri Susu untuk Dongkrak Ekonomi Boyolali

61
×

Bappenas Percepat Hilirisasi Industri Susu untuk Dongkrak Ekonomi Boyolali

Sebarkan artikel ini

BOYOLALI – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mendorong akselerasi hilirisasi sektor peternakan, khususnya susu sapi, di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengoptimalkan penyerapan produk lokal sekaligus menyokong keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional.

Dalam kunjungan kerjanya pada Rabu, 29 April 2026, Rachmat meninjau langsung operasional KUD Cepogo di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo. Selain meninjau kapasitas penyimpanan, ia berdialog dengan para peternak serta pelaku usaha pengolahan susu untuk memetakan tantangan di lapangan.

Rachmat menegaskan bahwa kunjungannya bertujuan untuk menyelaraskan program pemerintah daerah dengan agenda pembangunan nasional, terutama pada sektor pangan, energi, dan air. Ia menilai inisiatif yang digagas pemerintah daerah dalam sektor peternakan sangat krusial dalam mendukung target swasembada pangan.

Sejumlah kendala mendesak yang ditemukan dalam pertemuan tersebut mencakup kebutuhan bibit sapi unggul jenis Friesian Holstein (FH), ketersediaan pakan berkualitas, serta penguatan sarana dan prasarana. Menanggapi hal tersebut, pemerintah daerah mengusulkan pembangunan pabrik pakan ternak untuk menekan biaya produksi agar peternak lebih efisien.

Sekretaris Daerah Boyolali, M. Syawalludin, menyebut bahwa fokus utama saat ini adalah mengintegrasikan rantai produksi dari hulu ke hilir. Hilirisasi dipandang sebagai kunci utama agar susu dan daging sapi produksi lokal dapat terserap maksimal dalam ekosistem nasional.

Saat ini, ketergantungan susu nasional terhadap produk impor masih mencapai 80 persen. Pengusaha SPPG dari Wong Solo Group, Puspo Wardoyo, menyoroti bahwa kendala utama serapan susu lokal terletak pada keterbatasan teknologi pengolahan. Ia mendorong Boyolali untuk membangun ekosistem industri yang lengkap, mulai dari penyediaan bibit hingga pengolahan produk turunan seperti yogurt dan minuman fermentasi.

Senada dengan hal tersebut, pelaku usaha dari PT Susu Boyolali Andalan, Edwin Yudianto, mengungkapkan bahwa produksi susu di Boyolali mencapai 100 ton per hari. Saat ini, perusahaannya baru mampu mengolah sekitar 1.000 hingga 1.200 liter per hari untuk memasok kebutuhan SPPG.

Dengan adanya dukungan teknologi dan kemitraan, Edwin optimistis kapasitas produksi tersebut dapat ditingkatkan secara signifikan. Pemerintah pusat berharap model hilirisasi di Boyolali ini dapat menjadi proyek percontohan bagi pengembangan industri susu berbasis daerah lainnya di Indonesia.