Jakarta – Pemerintah mewaspadai dampak kenaikan harga minyak mentah dunia terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kenaikan US$1 pada harga minyak mentah Indonesia (ICP) berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) juda Agung mengungkapkan hal ini dalam sebuah forum ekonomi di Jakarta.
Pemerintah secara rutin melakukan uji ketahanan (stress test) terhadap berbagai variabel makroekonomi. Tujuannya untuk mengantisipasi gejolak global, termasuk potensi lonjakan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.”Stress test yang kami lakukan menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah 3 persen, debt over GDP juga masih terjaga,” ujar Juda.
Selain harga minyak, pemerintah juga menghitung sensitivitas terhadap pergerakan nilai tukar dan imbal hasil surat utang negara.
Pelemahan rupiah sebesar Rp100 terhadap dolar AS dapat menambah defisit sekitar Rp800 miliar. Sementara kenaikan yield sebesar 0,1 persen berpotensi meningkatkan beban anggaran sekitar Rp1,9 triliun.
Meski demikian, Juda menegaskan APBN dirancang cukup tangguh untuk meredam berbagai tekanan eksternal.Pemerintah menyusun kebijakan fiskal dengan tiga prinsip utama: kehati-hatian (prudent), disiplin, dan fleksibel.
“APBN kita didesain dengan prinsip prudent, disiplin, dan fleksibel. Kita memastikan defisit tetap di bawah 3 persen dan rasio utang terhadap PDB sekitar 40 persen,masih jauh di bawah batas undang-undang 60 persen,” jelasnya.
Fleksibilitas fiskal menjadi kunci dalam menghadapi berbagai kejutan global. Pemerintah juga menyiapkan cadangan fiskal sebagai bantalan untuk meredam gejolak baik dari sisi belanja maupun penerimaan negara.
Dari sisi pembiayaan,Kementerian keuangan juga melakukan diversifikasi sumber pendanaan. Pemerintah baru saja menerbitkan global bond senilai US$4,5 miliar ekuivalen dalam mata uang euro.
“Minggu lalu kami, Kemenkeu baru saja menerbitkan global bonds sejumlah USD4,5 miliar equivalent tapi dalam mata uang Euro dan Renminbi. Dan itu harganya masih sangat bagus,yield-nya masih sangat bagus. Untuk Renminbi antara 2-3 persen dan untuk Euro itu 4-5 persen. Ini ukurannya ini masih sangat bagus sekali untuk pasar global kita,” pungkas Juda.







