Jakarta – Indonesia mencatatkan sejarah baru dengan melakukan ekspor beras perdana ke Arab Saudi sebanyak 2.280 ton.
Ekspor ini menjadi bukti nyata keberhasilan swasembada beras yang berkelanjutan.
Rektor perbanas Institute, Hermanto Siregar, mengatakan ekspor ini merupakan hasil peningkatan produksi padi nasional dalam dua tahun terakhir.
“Produksinya luar biasa bagus,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).Ia menambahkan, swasembada tahun ini adalah yang terkuat sepanjang sejarah.
Surplus beras Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai 17 juta ton, tertinggi dalam sejarah produksi beras nasional.
Dengan produksi yang meningkat dan cadangan beras pemerintah yang kuat, Indonesia tak hanya mampu menjaga ketahanan pangan domestik.
Namun, juga mulai memperluas perannya di pasar global melalui ekspor beras.
Hermanto mengingatkan,keberhasilan swasembada harus berdampak nyata pada peningkatan kesejahteraan petani.
“Harus ada dampak nyata terhadap pemasukan dalam negeri dan kesejahteraan para petani,” tegasnya.
Ia berharap momentum ekspor ini terus dijaga melalui kebijakan yang konsisten, penguatan sistem distribusi, dan pengelolaan cadangan pangan yang baik.
Pengamat pertanian dari IPB University,Prima Gandhi,menilai ekspor beras ke Arab Saudi sebagai langkah strategis.
Menurutnya, ini adalah catatan penting dalam perjalanan Indonesia mencapai swasembada pangan nasional.
“Ekspor ini adalah bukti nyata bahwa swasembada beras Indonesia tidak bersifat sementara,tetapi terus berjalan secara berkelanjutan dan produktif,” katanya.
Prima menambahkan, ekspor beras memiliki nilai strategis dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan dan mendukung keseimbangan neraca perdagangan nasional.







