Jakarta – Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali berdampak luas dan kini mengancam sektor pangan global, terutama di negara-negara berkembang. Perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memicu gangguan besar pada rantai pasok pupuk, yang kemudian dapat menekan produksi pangan.
Dampak itu disebut paling berat dirasakan negara-negara miskin di Afrika. Ketergantungan pada impor pupuk dan keterbatasan sumber daya membuat kawasan tersebut berada dalam posisi paling rentan.
Kepala eksekutif Yara International, Svein Tore Holsether, memperingatkan dunia berada di ambang krisis yang bisa berkembang cepat jika tidak segera diantisipasi. “Hal terpenting yang bisa kita lakukan sekarang adalah membunyikan alarm atas apa yang sedang kita lihat saat ini, yaitu adanya risiko lelang global untuk pupuk yang membuatnya menjadi tidak terjangkau bagi mereka yang paling rentan,” ujarnya, dikutip dari Teh Guardian, Sabtu, 2 mei 2026.
ia menjelaskan, Afrika sebenarnya memiliki potensi besar sebagai produsen pangan global. Namun, pada kenyataannya, banyak negara di kawasan itu masih bergantung pada impor bahan pangan.
“Afrika sebenarnya berada dalam posisi yang cukup baik untuk menjadi produsen pangan utama, tidak hanya untuk swasembada tetapi juga untuk ekspor ke seluruh dunia, namun kenyataannya mereka adalah importir pangan dalam jumlah besar,” katanya.
Holsether juga mengingatkan bahwa dampak krisis pangan tidak akan merata di seluruh dunia. Negara maju kemungkinan besar tidak akan mengalami kelaparan, namun situasinya berbeda di negara miskin.
“Kita perlu menyadari di bagian dunia ini tentang konsekuensi potensial bahwa jika terjadi lelang global untuk pangan, tidak akan ada kelaparan di Eropa, tetapi kita harus sadar dari siapa kita mengambil makanan tersebut,” ujarnya.
Menurut dia, para pemimpin dunia perlu memahami risiko yang sedang berkembang sebelum situasi menjadi tak terkendali. Di sisi lain, perusahaan intelijen keuangan S&P Global juga mencatat dampak perang mulai terasa dalam rantai pasok global.
Pembatasan bahan bakar dan pupuk menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian. kepala riset rantai pasok di S&P Global market Intelligence, Chris Rogers, mengatakan tekanan yang muncul tidak hanya bersifat langsung, tetapi juga tidak langsung.







