Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis investigasi dagang oleh Amerika Serikat (AS) tidak akan mengganggu perdagangan Indonesia.
Menurutnya, investigasi dagang adalah hal yang wajar dalam hubungan internasional.
“Saya pikir tidak apa-apa (investigasi dagang). Investigasi itu hal yang biasa,” ujar Purbaya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026).Purbaya menjelaskan, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dalam perdagangan dengan AS. Harga barang dari Indonesia lebih bersaing.
Keunggulan ini didukung oleh biaya tenaga kerja yang lebih rendah, membuat neraca perdagangan Indonesia surplus terhadap AS.Terkait potensi kenaikan tarif, Purbaya menilai indonesia tidak akan terdampak signifikan jika tarif diberlakukan setara dengan negara lain.
Namun, jika tarif untuk indonesia lebih tinggi, misalnya selisih 10 persen, perdagangan Indonesia berpotensi tertekan.
Meski demikian, Purbaya memastikan pemerintah siap melakukan efisiensi jika diperlukan.”Kami akan lakukan usaha efisiensi yang lain kalau memang terpaksa. Tapi harusnya sih prospek ke depan nggak terlalu butuh, meski dengan investigasi dari USTR,” katanya.
Sebagai informasi, pemerintah AS memulai penyelidikan dagang atas dugaan praktik tidak sehat terhadap Indonesia, Jepang, dan belasan mitra dagang lainnya pada Rabu (11/3/2026).
penyelidikan ini dilakukan setelah Mahkamah Agung AS mencabut kebijakan tarif impor tinggi.
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan penyelidikan bertujuan mengungkap “serangkaian praktik dagang tidak sehat terkait kapasitas berlebih dan produksi manufaktur” untuk menetapkan tarif impor baru yang tinggi.







