WASHINGTON – Harga minyak dunia terpantau melandai pada perdagangan Kamis (16/4/2026) pagi, merespons sinyal potensi dibukanya kembali Selat Hormuz oleh Teheran. Harga minyak mentah Brent turun 44 sen atau 0,5 persen menjadi US$94,49 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 70 sen atau 0,8 persen ke posisi US$90,59 per barel.
Pasar bereaksi terhadap laporan bahwa Iran membuka peluang bagi kapal-kapal untuk melintas secara bebas di sisi Oman Selat Hormuz, dengan catatan tercapainya kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Sinyal de-eskalasi ini muncul setelah adanya optimisme dari pihak Washington terkait potensi penyelesaian konflik.
Meski demikian, pelaku pasar masih bersikap waspada. Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, menilai pergerakan harga minyak kemungkinan akan tetap fluktuatif di kisaran US$80 hingga US$100 per barel hingga ada kepastian hukum mengenai normalisasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Ketidakpastian ini berakar pada sejarah negosiasi AS-Iran yang sering kali buntu meski sempat menunjukkan tren positif. Saat ini, pejabat dari kedua negara dikabarkan tengah mempertimbangkan perundingan lanjutan di Pakistan, setelah pembicaraan pada Minggu (12/4) lalu tidak membuahkan hasil konkret. Kepala Angkatan Darat Pakistan diketahui telah berada di Teheran untuk memediasi dialog tersebut.
Di sisi lain, kondisi di lapangan masih cukup tegang. Militer AS melaporkan bahwa blokade maritim terhadap pelabuhan Iran tetap berjalan efektif. Bahkan, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa Washington akan memperketat tekanan ekonomi dengan tidak memperpanjang kebijakan pengecualian sanksi bagi pihak yang membeli minyak dari Iran dan Rusia.
Situasi Selat Hormuz sempat memicu perhatian global setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui platform Truth Social bahwa jalur strategis tersebut akan dibuka secara permanen demi kepentingan global, termasuk China. Trump mengeklaim langkah tersebut diambil setelah adanya kesepakatan bahwa Beijing tidak akan memasok persenjataan ke Iran.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh realitas di lapangan. Seorang pejabat tinggi pemerintah AS mengungkapkan bahwa meski ada pernyataan politik dari Presiden, blokade di Selat Hormuz hingga saat ini masih diberlakukan secara penuh. Berdasarkan laporan CENTCOM, aktivitas pelayaran dari dan menuju Iran masih terhenti total dan belum ada kapal yang diizinkan melintasi jalur tersebut.
Hingga saat ini, pasar masih menanti perkembangan nyata di meja perundingan. Sinyal positif terkait pembukaan jalur pelayaran memberikan sentimen penurunan harga minyak, namun ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya reda membuat investor tetap berhati-hati dalam menanggapi dinamika hubungan AS dan Iran.







