Tutup
EkonomiIndustriTeknologi

AMDK Tertekan Biaya Produksi dan Distribusi

74
×

AMDK Tertekan Biaya Produksi dan Distribusi

Sebarkan artikel ini
dilema-industri-amdk
Dilema Industri AMDK

Jakarta – Industri air minum dalam kemasan (AMDK) tengah menghadapi tekanan dari berbagai sisi, padahal sektor ini selama ini menjadi penopang kebutuhan harian masyarakat sekaligus bagian penting dari ekonomi nasional. Di tengah perannya yang besar, ongkos produksi dan distribusi kini sama-sama naik.kontribusi AMDK terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional telah mencapai 1,04 persen. Capaian itu menegaskan posisi sektor ini di dalam industri makanan dan minuman, salah satu tulang punggung manufaktur nonmigas Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai AMDK punya fungsi vital dalam ekosistem industri.sektor ini tidak hanya mendorong pertumbuhan industri pengolahan, tetapi juga menyerap sekitar 46 ribu pekerja secara langsung.

dari sisi produksi, kapasitas industri AMDK terbilang besar. setiap tahun, sektor ini mampu menghasilkan sekitar 47 miliar liter air minum, didukung lebih dari 700 pabrik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Selama ini, tingkat utilisasi pabrik yang berada di atas 70 persen menunjukkan industri AMDK berjalan relatif efisien dan stabil. Namun, situasi itu mulai berubah ketika tekanan datang bersamaan dari hulu dan hilir.

Di sisi hulu, gejolak geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang memengaruhi jalur energi dunia, mendorong kenaikan harga minyak dan gas. Dampaknya menjalar ke industri petrokimia,terutama bahan baku plastik untuk kemasan AMDK.

Kenaikan biaya bahan baku otomatis menekan struktur ongkos produsen. Pada saat yang sama, masalah lain muncul dari sisi distribusi barang.Kebijakan pembatasan angkutan Over Dimension Over Load (ODOL) yang ditargetkan berlaku penuh pada 2027 membuat kapasitas angkut berkurang. Pelaku usaha harus menambah frekuensi perjalanan, sehingga biaya logistik ikut terkerek.

Gabungan dua tekanan itu menciptakan kondisi yang disebut squeeze ganda: biaya produksi meningkat, sementara biaya distribusi juga ikut menanjak. Situasi ini menempatkan pelaku industri AMDK dalam posisi yang makin berat.

Pengamat politik ekonomi Andreas Ambesa mengingatkan,tekanan tersebut tidak boleh dianggap remeh.Menurut dia, bila tidak dikelola dengan hati-hati, kenaikan biaya di sektor AMDK bisa berujung pada penyesuaian harga di tingkat konsumen.

Dalam keadaan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan harga air minum berpotensi menambah tekanan inflasi pada kebutuhan pokok.