Jakarta – Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menginstruksikan seluruh pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fluktuasi harga. Meski inflasi nasional April 2026 tercatat terkendali di angka 2,42 persen year on year, pemantauan lapangan tetap menjadi prioritas utama.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi 2026 di Jakarta, Senin (18/5/2026), Tito menekankan perlunya antisipasi terhadap dinamika geopolitik global. Ia menyoroti potensi gangguan dari kenaikan harga minyak dunia serta fluktuasi kurs mata uang yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi domestik selama Mei ini.
Tito menilai koordinasi yang erat antara pusat dan daerah terbukti mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak global. Ia menyebut capaian inflasi 2,42 persen sebagai bukti keberhasilan strategi pengendalian yang dijalankan pemerintah saat ini, terutama jika dibandingkan dengan negara lain yang mengalami lonjakan inflasi hingga ratusan persen.
Secara sektoral, transportasi tercatat menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Namun, laju tersebut berhasil diredam oleh stabilnya harga kelompok makanan, minuman, serta tembakau yang berperan sebagai penyeimbang.
Khusus untuk wilayah dengan tingkat inflasi tinggi seperti Aceh dan Papua Barat, Tito meminta perbaikan segera pada sistem distribusi pangan. Ia menyoroti pentingnya kelancaran pasokan komoditas, seperti cabai merah, agar harga di pasar tetap terjangkau oleh masyarakat.
Rapat koordinasi ini turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi terkait, di antaranya Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dan Deputi Bapanas I Gusti Ketut Astawa. Selain itu, perwakilan dari BPOM, Kantor Staf Kepresidenan, dan berbagai instansi lainnya juga hadir untuk merumuskan langkah strategis ke depan, baik secara langsung maupun daring.






