Energi

MOLI Siapkan Pasokan 6 Juta Liter Bioetanol untuk Program E5

182
×

MOLI Siapkan Pasokan 6 Juta Liter Bioetanol untuk Program E5

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) atau Molindo menyatakan kesiapan untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait mandat pencampuran bahan bakar minyak (BBM) dengan bioetanol, yakni E5 hingga E10. Sebagai produsen etanol dan karbondioksida cair, perusahaan telah menyiapkan alokasi 6 juta liter etanol fuel grade yang akan disalurkan hingga akhir 2026, menyesuaikan dengan dinamika pasar dan implementasi program nasional.

Direktur Utama MOLI, Jose Gonjoran Tan, menjelaskan bahwa saat ini perusahaan memiliki kapasitas produksi etanol terpasang mencapai 10 juta liter. Dari total tersebut, sebanyak 4 juta liter telah terserap untuk kebutuhan industri anhydrous grade, menyisakan 6 juta liter yang diprioritaskan bagi sektor bahan bakar. Langkah ini diambil menyusul proyeksi kebutuhan etanol nasional yang sangat besar, mengingat konsumsi bensin dalam negeri mencapai 30 miliar liter per tahun. Dengan target campuran E5, setidaknya dibutuhkan pasokan etanol sebanyak 1,75 miliar liter per tahun.

MOLI menyambut positif rencana pemerintah dalam pengembangan lahan komoditas bahan baku seperti tebu, singkong, dan jagung. Jose menilai bahwa pembukaan lahan berskala jutaan hektare di sektor hulu sangat krusial untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan baku bioetanol jangka panjang. Perusahaan juga terus melakukan riset dan pengembangan (R&D) sejak 2018 untuk mengeksplorasi bahan baku alternatif, baik generasi pertama maupun kedua, guna mencari efisiensi produksi yang optimal.

Terkait kebijakan pemerintah yang membuka keran impor etanol dengan tarif 0%, Jose memandang hal tersebut sebagai langkah proporsional. Mengingat kapasitas produksi domestik saat ini belum mampu mencukupi kebutuhan program E5 dan E10 secara mandiri, ia menyarankan agar Indonesia mengadopsi model Filipina. Pendekatan ini mengombinasikan pasokan impor dengan peningkatan kapasitas produksi lokal secara bertahap guna mengurangi ketergantungan luar negeri.

Untuk memperkuat fundamental bisnis, MOLI mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp350 miliar untuk tahun buku 2026. Dana tersebut difokuskan pada pembaruan peralatan distilasi, pengembangan lini produksi liquid CO2, serta peningkatan fasilitas boiler. Investasi ini diproyeksikan tidak hanya menambah kapasitas produksi, tetapi juga menekan biaya operasional dan efisiensi energi.

Manajemen perusahaan menargetkan fasilitas produksi karbon dioksida (CO2) akan rampung pada 2027, yang diproyeksikan meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat. Mengingat kelangkaan pasokan CO2 di pasar domestik saat ini, proyek tersebut diharapkan menjadi kontributor utama bagi profitabilitas perusahaan mulai tahun depan.

Selain ekspansi kapasitas CO2, unit distilasi baru yang dijadwalkan selesai pada September 2027 diharapkan mampu meredam tekanan biaya produksi. MOLI optimistis strategi investasi dan diversifikasi produk ke arah etanol premium dengan nilai tambah lebih tinggi akan memperkuat kinerja keuangan perusahaan dalam beberapa tahun mendatang, seiring dengan pengembangan ekosistem bioetanol nasional yang semakin matang.