JAKARTA – Pemerintah resmi mengimplementasikan mandatori biodiesel 50 persen (B50) sebagai standar baru bahan bakar solar nasional. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap impor solar dan menghemat devisa negara hingga Rp177 triliun per tahun.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa langkah ini merupakan strategi krusial untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan mencampurkan 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) ke dalam solar fosil, Indonesia berkomitmen untuk mandiri secara energi.
Meski demikian, penghentian impor solar tidak serta-merta menjamin penurunan beban subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menyatakan bahwa isu ketahanan energi dan beban fiskal adalah dua hal yang berbeda.
Herry menjelaskan bahwa besaran subsidi energi tetap dipengaruhi oleh harga keekonomian BBM dan fluktuasi harga minyak mentah dunia. Faktor lain yang menentukan beban APBN meliputi nilai tukar rupiah, volume penyaluran, serta skema insentif biodiesel yang diterapkan pemerintah.
Pemerintah sendiri telah memastikan bahwa harga jual Biosolar B50 di tingkat konsumen tetap berada di angka Rp6.800 per liter. Kebijakan ini tetap dipertahankan guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat di tengah transisi energi.
Data historis menunjukkan bahwa neraca perdagangan migas Indonesia terus mengalami tekanan sejak 2012. Defisit migas tercatat melonjak dari US$ 5,6 miliar pada 2012 menjadi US$ 19,7 miliar pada tahun 2025.
Selama periode 2016 hingga 2025, Indonesia mencatat total impor solar mencapai 48 juta ton dengan nilai US$ 30,3 miliar. Pada 2025 saja, volume impor bersih solar masih berada di kisaran 4,3 juta ton senilai US$ 2,8 miliar.
Di sisi lain, kebutuhan konsumsi diesel nasional terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Data Kementerian ESDM mencatat konsumsi diesel naik dari 29,9 juta kiloliter pada 2020 menjadi 39,2 juta kiloliter pada 2024.
Simulasi NEXT Indonesia Center menunjukkan bahwa program B50 membutuhkan pasokan FAME hingga 18,8 juta kiloliter per tahun. Saat ini, realisasi penggunaan FAME baru mencapai 13,2 juta kiloliter, sehingga diperlukan tambahan produksi sebesar 5,6 juta kiloliter.
Peningkatan kapasitas produksi FAME menjadi kunci utama keberhasilan transisi menuju B50. Tanpa pasokan bahan baku yang memadai, target untuk menghentikan impor solar secara berkelanjutan akan sulit tercapai.
Pihak pemerintah mengimbau agar pelaku industri tidak terpengaruh oleh pihak-pihak yang menentang kebijakan ini. Presiden Prabowo bahkan sempat menyoroti adanya oknum yang diduga mengambil keuntungan dari komisi impor BBM selama ini.
Ke depan, efisiensi biaya produksi dan distribusi menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan. Pemerintah diharapkan mampu memastikan bahwa penghematan devisa tidak tergerus oleh besarnya biaya insentif biodiesel yang harus dibayarkan negara.






