JAKARTA – Aktivitas penggalangan dana melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue kembali mencatatkan geliat signifikan di pasar modal Indonesia. Sejumlah emiten memanfaatkan instrumen ini untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendanai rencana ekspansi bisnis strategis.
PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) menjadi salah satu emiten yang mengumumkan rencana aksi korporasi tersebut dengan target dana mencapai Rp500 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan manufaktur, sektor kendaraan listrik, serta ekspansi ke bisnis pertambangan.
Secara rinci, NTBK akan menyalurkan Rp200 miliar kepada anak usaha, PT Pilar Pratama Dinamika, guna memperkuat permodalan dan kapasitas operasional. Selain itu, sebesar Rp170 miliar digunakan untuk fasilitas perakitan, Rp80 miliar untuk segmen kendaraan listrik, dan Rp50 miliar untuk akuisisi perusahaan jasa pertambangan.
PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) juga bersiap melaksanakan rights issue dengan menerbitkan 10,68 miliar saham baru. Melalui penetapan harga pelaksanaan Rp120 per saham, perusahaan berpotensi menghimpun dana segar hingga Rp1,28 triliun.
Mayoritas dana hasil aksi korporasi COCO akan digunakan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi, produsen makanan ringan merek Momogi. Sisa dana akan dialokasikan untuk modal kerja, riset produk, hingga biaya pemasaran.
Di sisi lain, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) telah mengantongi persetujuan pemegang saham untuk menerbitkan 89,92 miliar saham baru. Dengan harga pelaksanaan Rp53 per saham, BNBR menargetkan perolehan dana sekitar Rp4,76 triliun.
Dana tersebut direncanakan untuk memperkuat entitas anak, PT Bakrie Technologies Industries, guna melunasi kewajiban pinjaman kepada Hartman International Pte. Ltd. Selain ketiga emiten tersebut, PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) dan PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) juga telah mendapatkan restu untuk melakukan aksi serupa.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal mencapai Rp112,67 triliun hingga akhir Juni 2026. Angka ini mencakup penawaran umum perdana saham, penawaran umum terbatas, serta penerbitan obligasi dan sukuk.
Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, menyatakan bahwa terdapat 11 rencana penawaran umum dalam pipeline otoritas. Nilai indikatif dari rencana tersebut mencapai Rp15,84 triliun.
Hasan menambahkan, rencana Penawaran Umum Terbatas (PUT) mendominasi proyeksi aksi korporasi mendatang dengan potensi dana Rp10,45 triliun dari lima perusahaan. Tren ini menunjukkan optimisme emiten dalam mencari pendanaan eksternal di tengah dinamika pasar.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat empat perusahaan telah merealisasikan rights issue senilai Rp3,89 triliun hingga 8 Juli 2026. Saat ini, masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang berada dalam antrean pelaksanaan aksi tersebut.
Analis pasar menilai investor cenderung merespons positif aksi korporasi yang difokuskan pada pengembangan bisnis inti. Penggunaan dana yang transparan dan terarah menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap emiten bersangkutan.







