Bursa Saham

IHSG Melemah Ikuti Tren Bursa Asia dan Global Rabu Pagi

52
×

IHSG Melemah Ikuti Tren Bursa Asia dan Global Rabu Pagi

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi. Indeks tercatat turun 2,32 poin atau 0,04 persen ke posisi 5.984,18.

Penurunan serupa juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45. Indeks tersebut terkoreksi 0,48 poin atau 0,08 persen ke level 594,44.

Pelemahan ini sejalan dengan tren negatif yang terjadi di bursa saham kawasan Asia dan global. Sentimen pasar cenderung bersifat risk-off akibat bayang-bayang pelemahan bursa Wall Street di Amerika Serikat.

Selain sentimen eksternal, pelaku pasar tengah mencermati posisi Indonesia dalam watchlist klasifikasi pasar S&P Dow Jones Indices untuk tahun 2027. Kondisi ini memicu kehati-hatian investor asing terhadap aksesibilitas pasar domestik.

Situasi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi faktor penekan pasar global. Serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran yang diikuti dengan pencabutan izin ekspor minyak memicu lonjakan harga komoditas energi.

Harga minyak Brent tercatat melonjak 3,0 persen menjadi 74,16 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI juga menguat hampir 3,0 persen ke level 70,44 dolar AS per barel.

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menilai kombinasi sentimen tersebut mendorong pergerakan IHSG ke arah konsolidasi dengan bias hati-hati. Meski demikian, fundamental domestik yang relatif solid diprediksi mampu meredam tekanan jual yang lebih dalam.

Kekuatan fundamental domestik terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai 11,51 persen secara tahunan (year on year). Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 13,47 persen dengan kualitas aset yang terjaga.

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang beragam bagi para pelaku pasar. Defisit perdagangan AS pada Mei 2026 melebar menjadi 77,6 miliar dolar AS di tengah kenaikan ekspektasi inflasi menjadi 3,7 persen.

Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan tetap bersikap hati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Fokus investor kini tertuju pada risalah pertemuan FOMC untuk mendapatkan petunjuk arah suku bunga ke depan.

Ketidakpastian arah kebijakan moneter ini membuat volatilitas pasar global diperkirakan tetap tinggi. Kondisi ini tecermin dari pergerakan bursa Eropa yang mayoritas melemah pada perdagangan Selasa (7/7).

Indeks Euro Stoxx 50 melemah 1,24 persen, sedangkan indeks DAX Jerman terkoreksi 0,37 persen. Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris sempat menguat tipis 0,13 persen.

Di bursa Wall Street, indeks Nasdaq Composite sempat melemah 1,77 persen. Namun, Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 masih mampu mencatatkan penguatan tipis.

Bursa saham regional Asia pada Rabu pagi juga menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks Nikkei melemah 0,64 persen dan indeks Kospi turun 1,69 persen. Sebaliknya, indeks Strait Times terpantau menguat 0,22 persen di tengah tekanan pasar regional lainnya.