NEW YORK – Indeks saham di bursa Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (8/7/2026), dipicu oleh ketegangan geopolitik dan dinamika sektor teknologi. Indeks S&P 500 melemah 0,28% ke level 7.482,71, sementara Dow Jones Industrial Average merosot 1,09% menjadi 52.348,39. Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan sebesar 0,20% ke level 25.870,65.
Sentimen negatif pasar dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa upaya kesepakatan damai dengan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela KTT NATO di Turki, di mana Trump memberi sinyal potensi serangan lanjutan dari Washington.
Ketidakpastian geopolitik ini langsung direspons pasar melalui lonjakan harga minyak dunia, dengan minyak mentah Brent tercatat naik 5,2%. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.
Rob Haworth, Senior Investment Strategist di U.S. Bank Wealth Management, menyatakan bahwa durasi konflik menjadi kunci utama bagi investor. Kerusakan infrastruktur di Iran dikhawatirkan memicu aksi balasan yang lebih luas dan berdampak signifikan terhadap stabilitas pasar global.
Sektor industri memimpin pelemahan dalam indeks S&P 500 dengan koreksi sebesar 3,41%, disusul oleh sektor material yang turun 2,45%. Saham-saham sektor perjalanan, seperti United Airlines, Delta Air Lines, dan operator kapal pesiar, turut tertekan akibat kenaikan biaya energi.
Di tengah tekanan pasar, sektor semikonduktor justru mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan indeks PHLX Semiconductor sebesar 2,23%. Penguatan ini dimotori oleh lonjakan saham Broadcom sebesar 4,8% pasca pengumuman kesepakatan pasokan chip dengan Apple senilai US$ 30 miliar.
Art Hogan, Chief Market Strategist di B. Riley Wealth, menyebut keterlibatan Apple memberikan dampak psikologis dan fundamental yang sangat kuat bagi mitra pemasoknya. Mengingat terdapat sekitar 2,5 miliar perangkat Apple yang tersebar secara global, penggunaan teknologi perusahaan tertentu menjadi katalis positif yang signifikan.
Saham Nvidia juga mencatatkan kenaikan sebesar 3,65% setelah muncul laporan terkait rencana Tiongkok yang akan mengizinkan perusahaan AI domestik membeli chip H200 dalam jumlah terbatas. Namun, optimisme di sektor chip tidak mampu menopang saham teknologi besar lainnya seperti Microsoft, Alphabet, dan Meta Platforms yang ditutup melemah lebih dari 1%.
Di sisi lain, SpaceX mencatatkan kinerja terburuk sejak melantai di bursa pada 12 Juni dengan penurunan 0,8% ke level US$ 148,38. Secara keseluruhan, sembilan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 berakhir di zona merah.
Tekanan bagi investor semakin bertambah setelah IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3%. Risiko konflik di Timur Tengah dinilai menjadi faktor utama yang menghambat pemulihan ekonomi dunia.
Pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve yang menunjukkan kekhawatiran mendalam pejabat bank sentral terhadap inflasi. Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan Desember mendatang.







