Bursa Saham

Prospek Emiten Tambang Logam Cerah di Semester II-2026, Cek Saham Pilihannya

55
×

Prospek Emiten Tambang Logam Cerah di Semester II-2026, Cek Saham Pilihannya

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Prospek emiten pertambangan logam di Bursa Efek Indonesia diproyeksikan tetap menjanjikan hingga akhir 2026. Sejumlah perusahaan seperti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diperkirakan mampu mencatatkan kinerja positif seiring dengan normalisasi biaya operasional.

Tekanan beban operasional yang sempat melonjak pada kuartal II-2026 akibat kenaikan harga energi diprediksi mulai melandai pada paruh kedua tahun ini. Normalisasi pasokan minyak dunia menjadi faktor utama yang diharapkan dapat memperbaiki margin keuntungan emiten sektor pertambangan.

Industri pertambangan merupakan sektor yang sangat intensif dalam penggunaan bahan bakar, listrik, dan logistik. Oleh karena itu, fluktuasi harga energi global memiliki korelasi langsung terhadap efisiensi biaya perusahaan tambang.

Kondisi biaya operasional diperkirakan akan berangsur stabil apabila pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah kembali normal. Selain itu, kebijakan OPEC+ dalam meningkatkan produksi minyak diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi stabilitas harga energi.

Meski demikian, pelaku pasar diminta tetap mewaspadai harga sulfur yang masih berada di level tinggi akibat gangguan jalur logistik di Selat Hormuz. Kenaikan harga sulfur dapat mempengaruhi biaya pengolahan bagi perusahaan yang menggunakan bahan tersebut dalam proses pemurnian mineral.

Dampak kenaikan harga sulfur dinilai tidak akan seberat tekanan biaya energi. Bagi sebagian besar emiten tambang, porsi biaya energi dalam struktur operasional jauh lebih dominan dibandingkan dengan biaya sulfur.

Emiten seperti AMMN dan INCO disebut memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan harga energi. Penurunan biaya energi diprediksi mampu mendongkrak profitabilitas AMMN yang saat ini tengah melakukan ekspansi produksi pada Batu Hijau Fase 8 serta pengoperasian smelter baru.

Sementara itu, INCO mengandalkan efisiensi melalui penggunaan energi alternatif, seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Strategi ini menjadi keunggulan kompetitif perusahaan dalam menjaga margin laba di tengah fluktuasi harga nikel global.

Emiten terintegrasi seperti ANTM dan INCO juga dinilai lebih adaptif dalam meredam dampak kenaikan biaya melalui efisiensi operasional. Pemanfaatan sumber energi yang lebih terjangkau menjadi kunci ketahanan margin perusahaan.

Prospek sektor pertambangan logam hingga akhir tahun didukung oleh sejumlah katalis positif. Salah satunya adalah potensi penurunan suku bunga acuan global yang dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Permintaan logam untuk mendukung transisi energi, kendaraan listrik, dan pembangunan infrastruktur global tetap menjadi penopang utama. Di sisi lain, program hilirisasi mineral di Indonesia yang terus berlanjut memberikan kepastian nilai tambah bagi industri dalam negeri.

Peningkatan harga emas di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik diproyeksikan menguntungkan ANTM. Sementara itu, pemulihan harga nikel dan permintaan tembaga yang kuat seiring ekspansi pusat data serta kecerdasan buatan (AI) menjadi katalis positif bagi sektor logam industri.

Investor tetap diingatkan untuk mencermati berbagai risiko yang ada. Perlambatan ekonomi global, dinamika geopolitik, serta perubahan regulasi pertambangan tetap menjadi variabel yang dapat memengaruhi kinerja emiten.

Faktor lain yang perlu diperhatikan meliputi fluktuasi nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya impor. Selain itu, potensi kenaikan kembali harga energi di pasar global tetap menjadi ancaman bagi stabilitas margin operasional.

Terkait rekomendasi saham, pelaku pasar disarankan melakukan strategi akumulasi pada beberapa emiten. ANTM diberikan rekomendasi add dengan target harga Rp 3.430 per saham, sedangkan AMMN direkomendasikan accumulative buy dengan target harga Rp 4.210 per saham.

Sementara itu, INCO mendapatkan rekomendasi add dengan target harga Rp 5.625 per saham. Strategi investasi ini didasarkan pada proyeksi efisiensi dan potensi pertumbuhan produksi perusahaan hingga penutupan tahun 2026.