Bursa Saham

Beban Biaya Menyusut, Prospek Saham ANTM, INCO, AMMN, dan TINS Menguat

48
×

Beban Biaya Menyusut, Prospek Saham ANTM, INCO, AMMN, dan TINS Menguat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Beban biaya operasional emiten pertambangan logam diproyeksikan mulai melandai pada paruh kedua tahun 2026. Normalisasi pasokan energi global menjadi faktor utama yang diharapkan mampu meringankan tekanan biaya bagi pelaku industri pertambangan.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyatakan bahwa tekanan biaya dari kenaikan harga minyak dan sulfur akan berangsur berkurang. Hal ini sejalan dengan pemulihan pasokan minyak dunia serta peningkatan produksi dari aliansi OPEC+.

Meski demikian, tantangan biaya tetap membayangi sektor ini, terutama terkait harga sulfur yang diprediksi masih akan berada di level tinggi. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menyoroti ketatnya rantai pasok sulfur global yang terpusat pada jalur perdagangan Selat Hormuz.

Kondisi tersebut diperparah dengan kebijakan pembatasan ekspor asam sulfat oleh Tiongkok sejak Mei lalu. Selain itu, permintaan sulfur di dalam negeri terus meningkat seiring masifnya pembangunan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) yang bersaing ketat dengan kebutuhan industri pupuk.

Andhika memperkirakan tekanan biaya akibat mahalnya harga sulfur akan bertahan sepanjang kuartal III-2026. Penurunan beban tersebut kemungkinan baru akan terasa secara bertahap setelah periode tersebut berakhir.

Dampak normalisasi biaya energi ini diprediksi tidak akan dirasakan secara seragam oleh seluruh emiten. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dinilai memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap fluktuasi biaya energi dibandingkan emiten lainnya.

Di sisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai memiliki posisi lebih defensif berkat diversifikasi bisnis yang luas. Sementara itu, kinerja PT Timah Tbk (TINS) lebih banyak ditentukan oleh dinamika pergerakan harga timah di pasar komoditas internasional.

Secara fundamental, sektor pertambangan logam masih didukung oleh sejumlah katalis positif hingga akhir tahun. Harga emas yang stabil di level tinggi serta permintaan tembaga yang solid untuk kebutuhan transisi energi menjadi penopang utama.

Selain itu, program hilirisasi mineral yang terus berlanjut di Indonesia serta potensi pemulihan harga nikel dan timah diharapkan dapat menjaga margin keuntungan emiten. Selama harga komoditas utama tetap kuat, tekanan biaya operasional diperkirakan masih dapat terkompensasi.

Namun, investor diminta tetap mewaspadai berbagai risiko yang mungkin memengaruhi kinerja emiten. Risiko tersebut mencakup pelemahan harga komoditas global, perubahan regulasi pertambangan, keterlambatan proyek ekspansi, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.

Terkait kinerja keuangan, momentum laba jangka pendek menunjukkan perbedaan proyeksi. Pertumbuhan laba kuartal II-2026 diperkirakan masih terkonsentrasi pada emiten tertentu, dengan urutan AMMN, INCO, ANTM, dan TINS sebagai yang paling menarik.

Proyeksi tersebut berubah untuk periode semester II-2026, di mana preferensi analis beralih ke ANTM, TINS, AMMN, lalu INCO. Saat ini, laba bersih TINS telah mencapai 77% dari target tahunan, sementara ANTM telah merealisasikan 66%.

Capaian tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi ANTM dan TINS untuk menyesuaikan kinerja di sisa tahun. Sebaliknya, AMMN dan INCO dituntut untuk menjaga konsistensi operasional demi mencapai target laba tahunan yang telah ditetapkan.

Dalam hal rekomendasi saham, Kiwoom Sekuritas memberikan peringkat buy untuk INCO dengan target harga Rp 6.300 per saham. BRI Danareksa Sekuritas juga memberikan rekomendasi buy untuk AMMN, ANTM, INCO, dan TINS dengan target harga masing-masing Rp 6.000, Rp 4.800, Rp 8.000, dan Rp 4.500 per saham.