Bursa Saham

Wall Street Melemah Akibat Ketegangan AS-Iran, Saham Chip Tertekan

165
×

Wall Street Melemah Akibat Ketegangan AS-Iran, Saham Chip Tertekan

Sebarkan artikel ini

NEW YORK – Bursa saham Wall Street mengawali perdagangan Senin (13/7/2026) dengan pergerakan yang bervariasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus menebar ketidakpastian di pasar ekuitas.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka menguat tipis 39,5 poin atau 0,08% ke level 52.676,53. Sebaliknya, indeks S&P 500 tertekan 27,9 poin atau 0,37% menjadi 7.547,53, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 193,3 poin atau 0,74% ke posisi 26.088,31.

Ketegangan dipicu oleh aksi saling serang antara militer AS dan Iran sepanjang akhir pekan lalu. Pemerintah Teheran dilaporkan telah menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi global paling vital saat ini.

Langkah tersebut secara otomatis membatalkan kesepakatan sementara yang baru saja ditandatangani kedua negara bulan lalu. Perjanjian tersebut sebelumnya diharapkan mampu memulihkan stabilitas di kawasan tersebut setelah melalui proses negosiasi intensif selama 60 hari.

Dampak langsung dari penutupan jalur pelayaran ini terlihat pada harga minyak mentah berjangka yang melonjak lebih dari 3%. Para pelaku pasar merespons ancaman tersebut dengan aksi jual di sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan stabilitas ekonomi global.

Sektor teknologi, khususnya produsen semikonduktor, memimpin penurunan di Nasdaq. Saham-saham chip memori mengalami tekanan jual yang signifikan setelah sempat mencatatkan kenaikan tajam sepanjang tahun ini.

Micron Technology tercatat melemah 4,9%, diikuti oleh Western Digital yang turun 5,1%. Sementara itu, Seagate dan Sandisk masing-masing mengalami koreksi sebesar 4% dan 5,4%.

Saham SK Hynix yang baru melantai di Nasdaq pada Jumat lalu juga tidak luput dari tekanan, dengan penurunan mencapai 9,3%. ETF semikonduktor iShares pun ikut terkoreksi sebesar 3,1% seiring sentimen negatif yang menyelimuti sektor tersebut.

Analis investasi menilai bahwa konflik Iran saat ini menjadi ujian serius bagi ketahanan pasar saham. Investor kini harus menyeimbangkan antara optimisme terhadap pertumbuhan pendapatan perusahaan dan risiko nyata dari gejolak geopolitik.

Pekan ini menjadi periode krusial karena sejumlah data ekonomi penting dan laporan pendapatan kuartal kedua akan segera dipublikasikan. Data tersebut akan menjadi tolok ukur utama bagi kesehatan perusahaan-perusahaan Amerika di tengah volatilitas pasar.

S&P 500 sendiri masih mencatatkan kenaikan lebih dari 10% sepanjang tahun berjalan. Indeks ini sempat mencatatkan kenaikan mingguan selama dua pekan berturut-turut meskipun dibayangi oleh isu inflasi yang kembali mengemuka.

Sektor perbankan akan memulai rangkaian laporan pendapatan kuartal kedua pada pekan ini. Selain itu, emiten besar lainnya seperti Netflix, General Electric, dan UnitedHealth dijadwalkan merilis hasil keuangan mereka.

Proyeksi pendapatan S&P 500 diperkirakan meningkat 23,7% pada kuartal kedua dibandingkan tahun sebelumnya. Analis memperkirakan sektor perbankan akan menunjukkan kinerja yang cukup baik seiring dengan ketahanan konsumsi masyarakat.

Selain laporan pendapatan, investor juga memantau data indeks harga konsumen AS yang akan dirilis Selasa. Angka inflasi ini diprediksi akan sangat memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve.

Pasar saat ini memperkirakan setidaknya terdapat satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Fokus investor juga tertuju pada kesaksian kebijakan moneter oleh Ketua Fed, Kevin Warsh, di hadapan Kongres.