Bursa Saham

Prospek Sektor Bahan Baku Semester II-2026 dan Rekomendasi Saham Pilihan

65
×

Prospek Sektor Bahan Baku Semester II-2026 dan Rekomendasi Saham Pilihan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kinerja indeks sektor bahan baku atau IDX Basic Materials mengalami tekanan signifikan sepanjang paruh pertama 2026. Indeks tersebut tercatat melemah 24,39% secara year to date (ytd) ke level 1.556,183 hingga Senin (13/7).

Dalam satu bulan terakhir, indeks ini terkoreksi sebesar 7,74%. Angka tersebut jauh lebih dalam dibandingkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya sebesar 3,47% dalam periode serupa.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa pelemahan ini dipicu oleh berbagai hambatan makroekonomi. Faktor utama meliputi ketidakpastian pasar akibat pembekuan oleh MSCI, depresiasi nilai tukar rupiah, hingga kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Selain faktor eksternal, tantangan internal sektor juga menekan kinerja emiten. Masalah kelebihan pasokan nikel dan penurunan harga batu bara dari level puncaknya menjadi beban berat bagi indeks bahan baku.

Wafi menambahkan bahwa saham dengan konsentrasi pemegang saham tinggi atau high shareholder concentration (HSC) terkena dampak aksi jual dana pasif. Hal ini membuat tekanan pada indeks bahan baku melampaui sentimen yang terjadi pada IHSG secara keseluruhan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyoroti sensitivitas sektor ini terhadap siklus ekonomi global. Perlambatan aktivitas manufaktur di China, sebagai konsumen komoditas utama dunia, turut menurunkan ekspektasi permintaan logam dan bahan bangunan.

Normalisasi harga komoditas pasca-periode supercycle juga memaksa investor melakukan re-pricing terhadap valuasi emiten. Sebelumnya, banyak saham sektor ini diperdagangkan dengan valuasi premium saat harga komoditas berada di puncak.

Selain itu, arus keluar modal asing atau capital outflow dari pasar saham domestik memperparah kondisi. Investor cenderung beralih ke sektor yang lebih defensif demi menjaga keamanan portofolio di tengah situasi pasar yang volatil.

Namun, prospek sektor bahan baku pada semester II-2026 masih menyimpan potensi perbaikan. Katalis utamanya mencakup pemulihan permintaan dari China serta stabilisasi kebijakan suku bunga bank sentral global.

Peningkatan volume penjualan diprediksi mampu mengompensasi efek penurunan harga komoditas. Emiten yang fokus pada efisiensi operasional dan memiliki neraca keuangan sehat dinilai akan lebih diminati pasar dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan lonjakan harga komoditas.

Relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang direncanakan mulai Juli 2026 diharapkan dapat mendorong volume produksi. Optimisme juga muncul seiring potensi meredanya tekanan jual akibat peninjauan indeks MSCI pada Agustus 2026.

Untuk sisa tahun ini, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) diproyeksikan menjadi saham unggulan. ANTM mendapatkan keuntungan dari diversifikasi produk emas dan nikel, sementara MDKA didorong oleh peningkatan kapasitas produksi di tambang Pani.

Secara teknikal, ANTM ditargetkan mampu mencapai level Rp 5.000 per saham. Sementara itu, MDKA diproyeksikan menyentuh level Rp 3.000 per saham.

Para analis menyarankan investor untuk tetap selektif dalam memilih saham. Prioritas utama harus diberikan pada emiten dengan free float yang bersih dan minim masalah konsentrasi pemegang saham.