PAMULANG – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ) menggelar program edukasi bertajuk Digicare (Digital Literacy, Empathy and Privacy for Youth) di SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi, Pamulang, pada Jumat (24/7).
Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari mata kuliah Event Management sekaligus bentuk Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digagas oleh dosen pengampu.
Fokus utama dari penyelenggaraan Digicare adalah meningkatkan pemahaman literasi digital bagi pelajar di tingkat sekolah menengah.
Selain literasi digital, program ini menekankan pentingnya membangun empati dalam berinteraksi di ruang siber serta meningkatkan kesadaran siswa terhadap perlindungan data pribadi.
Dosen pengampu mata kuliah Event Management UMJ, Syifa Astasia Utari, menyatakan bahwa inisiatif ini dirancang sebagai ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa.
Menurut Syifa, kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam hal kepemimpinan, pengambilan keputusan, serta manajemen proyek.
Mahasiswa dituntut untuk mengelola seluruh rangkaian acara secara mandiri, mulai dari tahap perencanaan, koordinasi, hingga eksekusi di lapangan.
Syifa menuturkan bahwa mahasiswa menunjukkan perkembangan kompetensi yang signifikan selama proses persiapan hingga hari pelaksanaan.
Ketangguhan mahasiswa diuji saat menghadapi kendala teknis, termasuk gangguan logistik yang terjadi sesaat sebelum acara dimulai.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa diharapkan dapat menguasai tiga kompetensi utama yakni manajemen proyek riil, komunikasi lintas pemangku kepentingan, serta resiliensi dan etos kerja.
Ketua Pelaksana Digicare 2026, Muhammad Thoriq Ilyas, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud dedikasi mahasiswa terhadap kebutuhan masyarakat.
Thoriq berharap model edukasi seperti Digicare dapat direplikasi ke sekolah-sekolah lain di masa mendatang guna memperluas jangkauan literasi digital bagi generasi muda.
Pentingnya literasi digital di kalangan remaja kini menjadi perhatian banyak pihak seiring dengan meningkatnya ancaman di ruang digital.
Upaya serupa juga dilakukan oleh berbagai instansi di Indonesia untuk membentengi generasi muda dari potensi radikalisme dan penyalahgunaan data pribadi.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan, misalnya, telah mulai memberikan program pelatihan teknologi kepada remaja melalui rumah ibadah untuk memastikan inklusivitas edukasi digital.
Selain itu, berbagai lembaga pendidikan dan perusahaan terus mendorong inisiatif serupa, seperti kompetisi video kreatif dari Indonesia Financial Group (IFG) untuk meningkatkan kesadaran akan risiko sehari-hari.
Langkah-langkah ini sejalan dengan dorongan pemerintah dalam memperkuat literasi masyarakat terhadap penggunaan perangkat digital secara bijak dan aman.
Peningkatan literasi digital diharapkan mampu menciptakan ekosistem daring yang lebih sehat bagi para pelajar di seluruh Indonesia.






