Ekonomi

BI Pertahankan Suku Bunga, Yield SBN 10 Tahun Justru Melonjak

4
×

BI Pertahankan Suku Bunga, Yield SBN 10 Tahun Justru Melonjak

Sebarkan artikel ini
Gedung Bank Indonesia di Jakarta dengan latar belakang aktivitas ekonomi kota
Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.

JAKARTA – Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mengalami kenaikan signifikan pasca keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor masih menuntut premi risiko yang lebih tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Data per Minggu (26/7/2026) menunjukkan yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,37%. Angka tersebut tercatat meningkat 1,89% dalam sepekan dan melonjak 13% secara tahunan (year-on-year).

Sebelum Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Juli, yield SBN tenor 10 tahun sempat berada di level 7,1%. Namun, keputusan BI menahan suku bunga ternyata tidak cukup kuat menjadi katalis untuk mendorong penurunan yield surat utang negara.

Tekanan eksternal dinilai menjadi faktor utama yang menghambat penurunan yield SBN. Hal ini dipicu oleh yield US Treasury tenor 10 tahun yang masih bertahan tinggi di kisaran 4,69%.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang cenderung hawkish turut menambah beban bagi pasar obligasi domestik. Volatilitas nilai tukar rupiah yang masih tinggi juga memengaruhi sentimen investor global.

Kendati demikian, kondisi fiskal domestik diklaim masih terjaga dengan baik. Realisasi APBN semester I-2026 mencatat defisit sebesar Rp 196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB.

Angka defisit tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tekanan pada yield saat ini murni berasal dari dinamika pasar global, arus modal, dan kebutuhan pembiayaan, bukan akibat pelemahan disiplin fiskal.

Spread yield SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury saat ini berada di level 265 basis poin (bps). Level ini sebenarnya masih menawarkan kompensasi yang cukup menarik bagi investor.

Namun, ruang penurunan yield diprediksi terbatas selama yield US Treasury belum melandai. Dinamika arus modal asing juga menjadi tantangan, di mana terjadi aliran keluar (outflow) sebesar Rp 3,81 triliun pada Juli, berbalik dari posisi inflow Rp 44,41 triliun pada Juni.

Persaingan likuiditas domestik pun semakin ketat karena tingginya minat pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen SRBI tenor satu tahun saat ini menawarkan yield sekitar 7,64% dengan outstanding mencapai Rp 1.065 triliun.

Untuk sisa tahun 2026, yield SBN 10 tahun diproyeksikan bergerak di rentang 7,10% hingga 7,40%. Penurunan ke level 6,90%-7,10% hanya akan terjadi jika The Fed mulai mengambil kebijakan yang lebih akomodatif.

Sebaliknya, yield berpotensi naik ke kisaran 7,40%-7,60% jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Faktor lain yang perlu diwaspadai adalah jatuh tempo SRBI senilai Rp 138 triliun pada November 2026.

Jika dana hasil jatuh tempo SRBI kembali ditempatkan pada instrumen dengan yield tinggi, persaingan likuiditas dengan SBN dipastikan akan terus berlanjut. Investor kini mencermati arah kebijakan bank sentral global sebagai penentu utama pergerakan pasar obligasi Indonesia di paruh kedua tahun ini.