JAKARTA – Investor asing terus mengurangi eksposur portofolio mereka di sejumlah negara berkembang atau emerging market, termasuk Indonesia dan India. Fenomena arus keluar modal ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global serta pergeseran preferensi investasi ke sektor-sektor yang dianggap lebih menjanjikan.
Pasar keuangan Indonesia saat ini menghadapi tekanan yang tercermin dari kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN). Per 24 Juli 2026, yield SBN tenor 10 tahun menyentuh level 7,37%. Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 13% secara tahunan, menandakan investor meminta kompensasi risiko lebih tinggi untuk tetap menanamkan modal di domestik.
Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, mencatat sedikitnya tiga faktor utama pemicu tren capital outflow ini. Pertama, sikap bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang cenderung hawkish.
Kedua, guncangan harga energi akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Ketiga, sentimen risk-off yang mendominasi pasar di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global.
Dana asing yang keluar dari pasar negara berkembang kini mengalir ke instrumen yang dianggap sebagai aset safe haven. Selain itu, modal mengarah ke sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI) serta diversifikasi ke komoditas energi dan bahan baku.
Harry memperkirakan tekanan arus keluar modal akan berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah. Beban fiskal APBN yang meningkat serta depresiasi nilai tukar rupiah menjadi faktor domestik yang memperburuk prospek pertumbuhan.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menambahkan bahwa minimnya basis perusahaan berbasis AI dan semikonduktor di Indonesia membuat pasar domestik kurang kompetitif. Investor global saat ini lebih tertarik menempatkan modal pada negara yang memiliki eksposur kuat di sektor teknologi tersebut.
Selain faktor eksternal, posisi Indonesia dibayangi oleh sentimen negatif dari lembaga pemeringkat internasional dan MSCI. Ancaman penurunan status dari emerging market ke frontier market sempat memicu kekhawatiran meski status tersebut kini dipertahankan.
Hans menilai tekanan dari MSCI bersifat sementara karena dampaknya paling terasa pada reksadana pasif. Saat ini, pasar domestik lebih dipengaruhi oleh tantangan transparansi dan pengelolaan anggaran pemerintah.
Meski terjadi outflow di pasar saham, kondisi di pasar obligasi dinilai mulai menunjukkan perbaikan. Sebagian dana asing mulai kembali masuk ke pasar SBN karena yield yang ditawarkan dianggap cukup menarik.
Selain itu, investor mulai melakukan rebalancing portofolio dari sektor AI yang dianggap berpotensi bubble ke saham-saham yang lebih defensif. Indonesia yang dinilai memiliki saham undervalued berpotensi diuntungkan dari pergeseran strategi ini.
Tantangan utama bagi pemerintah saat ini adalah menjaga disiplin fiskal dan stabilitas nilai tukar rupiah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas dikhawatirkan memicu kenaikan harga BBM impor dan memperlebar defisit anggaran.
Pemerintah disarankan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola program prioritas yang menyerap anggaran besar. Konsistensi dalam reformasi pasar modal dan kebijakan fiskal menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan investor jangka panjang.
Investor disarankan untuk melakukan rotasi portofolio ke saham komoditas dan energi sebagai upaya lindung nilai. Mengamankan likuiditas dalam bentuk kas atau reksa dana pasar uang juga penting untuk menangkap peluang saat harga aset jatuh.
Terakhir, memanfaatkan instrumen SBN jangka pendek dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dapat menjadi pilihan. Instrumen ini menawarkan imbal hasil kompetitif dengan risiko gagal bayar yang relatif minim bagi investor lokal.






