Investasi

Cara Investasi Saham AS Mulai Rp11 Ribu via Tokenized ETF

49
×

Cara Investasi Saham AS Mulai Rp11 Ribu via Tokenized ETF

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Investasi pada indeks saham Amerika Serikat seperti S&P 500 dan Nasdaq kini semakin mudah diakses melalui kehadiran tokenized ETF. Inovasi ini memungkinkan investor ritel memiliki representasi aset global tanpa harus melalui proses pembukaan rekening broker luar negeri yang rumit.

Pintu Academy menjelaskan bahwa tokenized ETF adalah produk investasi yang kepemilikannya direpresentasikan dalam bentuk token di jaringan blockchain. Aset dasar yang digunakan tetap mengacu pada ETF konvensional seperti SPY untuk S&P 500 atau QQQ untuk Nasdaq-100, sehingga nilai token akan bergerak mengikuti harga aset acuannya.

Popularitas instrumen ini melonjak signifikan seiring dengan adopsi teknologi blockchain dalam sektor keuangan. Per Juni 2026, kapitalisasi pasar tokenized ETF tercatat mencapai 150 juta dolar AS, angka yang menunjukkan pertumbuhan hampir 400 persen dibandingkan dengan posisi September 2025.

Secara teknis, tokenized ETF beroperasi dengan cara manajer aset membeli ETF di bursa saham konvensional dan menyimpannya melalui kustodian. Selanjutnya, token yang memiliki nilai setara diterbitkan di jaringan blockchain seperti Ethereum atau Solana.

Setiap transaksi perpindahan token melibatkan smart contract yang otomatis menjalankan prosedur Know Your Customer (KYC) dan Anti-Money Laundering (AML). Berbeda dengan ETF di Indonesia yang menerapkan siklus penyelesaian T+2, tokenized ETF menggunakan sistem settlement atomik.

Mekanisme settlement atomik ini memungkinkan perpindahan aset dan pembayaran selesai dalam satu transaksi instan di blockchain. Hal ini secara signifikan menekan risiko gagal bayar antarpihak dibandingkan sistem perdagangan tradisional.

Keunggulan utama lainnya terletak pada jam perdagangan yang fleksibel, yakni 24 jam sehari atau 24/5 pada platform tertentu. Selain itu, investor dapat membeli aset dalam satuan fraksional dengan nominal yang jauh lebih terjangkau dibandingkan modal awal di bursa konvensional.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko yang menyertainya. Sebagian besar token tidak memberikan kepemilikan saham secara langsung, melainkan berupa klaim terhadap kustodian atau special purpose vehicle (SPV).

Risiko likuiditas juga menjadi perhatian karena aset yang sama bisa diperdagangkan di berbagai blockchain dengan harga berbeda. Selain itu, ketergantungan pada smart contract menuntut investor untuk memilih platform yang telah teruji dan menjalani audit keamanan secara ketat.

Pasar tokenized ETF saat ini telah diramaikan oleh berbagai pemain global dan lokal. Ondo Finance, misalnya, mencatatkan total value locked (TVL) di atas 899 juta dolar AS dengan lebih dari 400 jenis saham dan ETF yang ditokenisasi.

Sementara itu, platform xStocks yang dikembangkan Backed telah mencatatkan volume transaksi kumulatif sekitar 25 miliar dolar AS sejak Juni 2025. Di sisi lain, BlackRock melalui produk BUIDL menyasar segmen institusi dengan aset kelolaan mencapai 4 miliar dolar AS.

Di Indonesia, akses terhadap instrumen ini tersedia melalui aplikasi PINTU dengan batas minimal investasi mulai dari Rp11 ribu. Pengguna dapat memperdagangkan aset seperti SPX, QQQx, dan VTIX setelah menyelesaikan proses verifikasi KYC.