JAKARTA – PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) resmi memulai babak baru dalam transformasi bisnisnya setelah sukses melakukan ekspor perdana aluminium primer pada Juni 2026. Langkah strategis ini menjadi tonggak sejarah perusahaan dalam menggeser fokus dari produsen batu bara metalurgi menuju sektor hilirisasi mineral bernilai tambah tinggi.
Ekspor tersebut sekaligus menandai dimulainya monetisasi proyek smelter yang dikelola oleh entitas anak perusahaan, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). Proyek yang sebelumnya berada dalam tahap commissioning kini telah memasuki fase operasi komersial sesuai dengan rencana jangka panjang perseroan.
Analis pasar modal menilai langkah ini akan mengubah profil bisnis ADMR secara signifikan. Perusahaan kini mulai memiliki sumber pendapatan baru yang berasal dari industri logam hilir, yang diharapkan mampu memperkuat diversifikasi arus kas di masa depan.
Proyeksi pendapatan dari segmen ini dinilai cukup menjanjikan bagi kinerja keuangan perusahaan. Dengan asumsi harga aluminium berada di level US$ 2.400 per ton serta kapasitas produksi tahap awal mencapai 500.000 ton per tahun, potensi pendapatan kotor yang dihasilkan dapat menembus angka US$ 1,2 miliar.
Angka proyeksi tersebut bahkan berpotensi melampaui total pendapatan ADMR sepanjang tahun 2025. Kondisi pasar global saat ini juga dinilai mendukung, di mana gangguan pasokan aluminium dunia telah memicu kenaikan harga dan premi fisik, terutama di pasar Amerika Serikat.
Meski demikian, dampak positif dari ekspor ini terhadap kinerja keuangan secara keseluruhan diprediksi masih terbatas pada tahun 2026. Hal ini dikarenakan operasional smelter saat ini masih berada dalam fase ramp-up atau peningkatan kapasitas produksi secara bertahap.
Target penjualan aluminium untuk tahun 2026 dipatok di angka 350.000 ton. Kontribusi segmen ini diproyeksikan baru akan memberikan dampak signifikan terhadap laba bersih perusahaan mulai tahun 2027 saat kapasitas produksi mencapai level optimal.
Hingga kuartal I-2026, fondasi kinerja ADMR masih ditopang kuat oleh bisnis batu bara metalurgi. Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 4,5 triliun atau tumbuh 35,9% secara tahunan, dengan laba bersih yang naik 38,1% menjadi Rp 1,48 triliun.
Para analis melihat tahun 2026 sebagai periode transisi yang krusial bagi perusahaan. Batu bara tetap menjadi penopang utama, sedangkan aluminium akan berperan sebagai katalis pertumbuhan jangka menengah.
Sejumlah risiko tetap harus diwaspadai investor, terutama terkait volatilitas harga komoditas global. Risiko eksekusi dalam tahap ramp-up smelter serta potensi normalisasi harga pasar jika gangguan pasokan global mereda dapat mempengaruhi margin profitabilitas.
Faktor eksternal lainnya seperti biaya energi, kebijakan regulasi pemerintah, serta fluktuasi nilai tukar rupiah juga menjadi variabel penentu bagi margin perseroan. Saat ini, pelaku pasar memberikan rekomendasi beli dengan target harga berada di rentang Rp 1.500 hingga Rp 1.600 per saham.







