Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan sebesar 155,73 poin atau 2,71% ke level 5.902,38 pada penutupan perdagangan Rabu (10/6). Kendati indeks berhasil rebound, pasar saham domestik masih menghadapi tekanan jual yang konsisten dari investor asing.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak fluktuatif di rentang 5.677,97 hingga 5.942,94. Aktivitas transaksi di pasar modal tergolong tinggi dengan volume perdagangan mencapai 42,9 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 31,69 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 3,03 juta kali. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI berada di angka Rp 10.345 triliun, dengan kapitalisasi pasar free float mencapai Rp 2.633 triliun.
Di balik tren positif tersebut, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 3,13 triliun. Angka ini menambah akumulasi net sell asing secara tahun berjalan (year to date/ytd) menjadi Rp 67,38 triliun. Tren pelemahan minat investor asing ini berlanjut setelah pada hari sebelumnya, Selasa (9/6), asing juga melakukan aksi jual senilai Rp 2,44 triliun di tengah lonjakan IHSG sebesar 7,57%.
Secara fundamental, IHSG mencatatkan price to earnings ratio (PER) di level 11,87 kali, sementara price to book value (PBV) berada pada angka 1,57 kali. Kenaikan indeks didorong oleh kinerja saham-saham berkapitalisasi besar (big caps). PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor utama kenaikan dengan sumbangan 46,84 poin setelah harga sahamnya melonjak 9,71%.
Selain BBCA, sejumlah emiten lain turut menjadi motor penggerak penguatan indeks. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berkontribusi sebesar 19,84 poin, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 14,11 poin, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 13,30 poin, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan sumbangan 10,14 poin. Secara keseluruhan, sebanyak 434 saham mengalami kenaikan, 166 saham melemah, dan 203 saham stagnan.
Saham BBCA memimpin nilai transaksi harian dengan capaian Rp 5,17 triliun, diikuti oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp 3,30 triliun dan BBRI sebesar Rp 2,06 triliun. Untuk volume perdagangan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan transaksi tertinggi sebanyak 7,44 miliar saham.
Di jajaran top gainers, PT Multitrend Indo Tbk (BABY) memimpin dengan kenaikan 35%, diikuti PT First Media Tbk (KBLV) sebesar 34,85%, dan PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) sebesar 34,59%. Sebaliknya, PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) memimpin daftar top loser setelah terkoreksi 14,69%.
Meskipun terjadi pembalikan arah yang kuat, kinerja IHSG secara tahun berjalan masih tertekan dengan koreksi mencapai 31,74%. Tingginya akumulasi net sell asing menjadi indikator bahwa pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan volatilitas yang signifikan sepanjang tahun ini.







