Investasi

Investasi Hilirisasi Tembus Rp300,1 Triliun, Sektor Mineral Jadi Penopang Utama

33
×

Investasi Hilirisasi Tembus Rp300,1 Triliun, Sektor Mineral Jadi Penopang Utama

Sebarkan artikel ini
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memberikan keterangan terkait realisasi investasi sektor hilirisasi
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memaparkan capaian investasi hilirisasi yang menembus Rp300,1 triliun.

JAKARTA – Realisasi investasi di sektor hilirisasi Indonesia mencatatkan performa signifikan sepanjang semester I 2026 dengan total nilai mencapai Rp 300,1 triliun. Angka tersebut memberikan kontribusi sebesar hampir 30 persen terhadap total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp 1.010,6 triliun pada periode yang sama.

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa capaian investasi hilirisasi ini tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode serupa pada tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional telah mencapai 49,5 persen dari target tahunan yang dipatok sebesar Rp 2.041,3 triliun.

Dominasi modal asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) menjadi pendorong utama dalam proyek hilirisasi dengan nilai Rp 212,8 triliun atau setara dengan 70,9 persen dari total investasi hilirisasi. Sementara itu, kontribusi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp 87,3 triliun atau 29,1 persen.

Sektor industri pengolahan mineral masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp 206,5 triliun. Investasi pada komoditas nikel memimpin dengan nilai Rp 71 triliun, disusul bauksit sebesar Rp 53,8 triliun dan tembaga senilai Rp 37,4 triliun.

Selain sektor mineral, aliran modal juga masuk ke komoditas besi baja senilai Rp 30,2 triliun dan pasir silika sebesar Rp 5,9 triliun. Sektor non-mineral turut mencatatkan capaian positif, di antaranya perkebunan dan kehutanan sebesar Rp 54,4 triliun, minyak dan gas bumi senilai Rp 35,4 triliun, serta perikanan dan kelautan sebesar Rp 3,8 triliun.

Distribusi investasi hilirisasi menunjukkan pergeseran fokus ke luar Pulau Jawa, dengan Sulawesi Tengah menempati posisi pertama sebagai penerima investasi terbesar senilai Rp 56,1 triliun. Maluku Utara menyusul di posisi kedua dengan nilai Rp 53,9 triliun.

Provinsi lain yang menjadi pusat investasi hilirisasi adalah Jawa Barat dengan Rp 25,8 triliun, Nusa Tenggara Barat sebesar Rp 23,5 triliun, serta Jawa Timur yang mencatatkan angka Rp 17,5 triliun. Sebaran ini mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam memeratakan pembangunan industri di wilayah timur Indonesia.

Secara nasional, akumulasi investasi di seluruh sektor pada semester I 2026 telah berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 1.448.862 orang. Pertumbuhan investasi sebesar 7,2 persen secara tahunan ini dinilai sebagai capaian yang solid di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan.

Menteri Investasi Rosan Roeslani menegaskan bahwa minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia tetap terjaga sesuai dengan target pemerintah. Hal ini dinilai sebagai bukti kepercayaan pelaku usaha terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi dunia.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mengawal realisasi investasi tersebut agar memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Fokus hilirisasi ke depan tetap diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri melalui penguatan industri pengolahan.