JAKARTA – Peluang investasi di pasar keuangan Indonesia dinilai mulai terbuka lebar pada paruh kedua tahun 2026. Optimisme ini muncul setelah koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 30 persen secara year to date (ytd) membuat valuasi saham domestik menjadi lebih murah dan menarik bagi investor.
Selain pasar saham, sektor obligasi pemerintah kini menawarkan daya tarik tersendiri dengan tingkat imbal hasil (yield) yang telah menembus angka 7,2 persen. Kombinasi valuasi saham yang rendah dan imbal hasil obligasi yang kompetitif menjadi katalis utama bagi investor untuk kembali masuk ke pasar domestik.
Executive Director, Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia, Emillya Soesanto, menyatakan bahwa valuasi saham saat ini berada di bawah standar deviasi historisnya. Kondisi price to earnings (PE) yang rendah menjadi sinyal kuat bahwa pasar saham Indonesia memiliki ruang untuk pemulihan.
Pasar keuangan Indonesia sebelumnya mengalami tekanan berat sepanjang semester pertama tahun 2026. Nilai tukar rupiah sempat melemah mendekati level Rp 18.000 per dolar AS, sementara IHSG sempat terkoreksi hingga 35 persen pada akhir Juni lalu.
Tekanan tersebut dipicu oleh keputusan pengelola indeks global, MSCI, yang membekukan rebalancing saham Indonesia. Hal ini memicu kekhawatiran mengenai potensi penurunan status pasar Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar perintis atau frontier market.
Kendati demikian, Emillya menegaskan bahwa pelemahan pasar saat ini tidak mengindikasikan krisis ekonomi nasional. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menopang ketahanan pasar di masa mendatang.
Peluang investasi ini juga didukung oleh respons cepat dari otoritas terkait, termasuk Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pemerintah. Koordinasi antarinstitusi ini dinilai krusial dalam menjaga stabilitas pasar di tengah volatilitas global.
Tantangan utama yang masih membayangi investor adalah fluktuasi nilai tukar rupiah. Pelemahan mata uang domestik ini dipicu oleh arus keluar dana asing yang membutuhkan premi risiko lebih menarik agar modal dapat kembali mengalir ke dalam negeri.
UOB memproyeksikan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga atau BI Rate sebanyak tiga kali lagi hingga akhir tahun 2026. Kenaikan masing-masing 25 basis points (bps) akan membawa suku bunga acuan berada di level 6,5 persen dari posisi saat ini sebesar 5,75 persen.
ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, menjelaskan bahwa kebijakan kenaikan suku bunga bertujuan untuk meningkatkan imbal hasil aset domestik. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas rupiah, terutama jika bank sentral Amerika Serikat, The Fed, kembali memperketat kebijakan moneternya.
Meskipun kenaikan suku bunga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan pasar saham dalam jangka pendek, obligasi pemerintah tetap menjadi instrumen yang paling diminati. Imbal hasil yang berada di atas 7 persen memberikan ruang bagi investor untuk mengamankan pendapatan tetap.
Di sisi lain, perbankan nasional kini memiliki tantangan untuk menyalurkan likuiditas ke sektor-sektor produktif. Fokus utama tetap pada dorongan pertumbuhan di sektor manufaktur serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjaga momentum ekonomi nasional.






