Bursa Saham

Ketegangan AS-Iran Memicu Lonjakan Harga Minyak dan Tekan Bursa Asia

65
×

Ketegangan AS-Iran Memicu Lonjakan Harga Minyak dan Tekan Bursa Asia

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Senin (13/7/2026) menyusul lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh eskalasi ketegangan di kawasan Teluk. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Teheran mengklaim telah menutup Selat Hormuz.

Kondisi geopolitik tersebut memicu kekhawatiran baru terkait potensi lonjakan inflasi global. Investor juga merespons ancaman kebijakan suku bunga tinggi yang mungkin dipertahankan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Harga minyak Brent melonjak 3,3% ke level US$78,50 per barel pada awal perdagangan. Sebelumnya, harga komoditas ini sempat menyentuh titik terendah di level US$70,14 per barel.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turut mengalami kenaikan sebesar 3,4% menjadi US$73,83 per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah ketidakpastian akses di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Otoritas Amerika Serikat menyatakan telah mengawal sekitar 20 kapal melewati selat tersebut dalam 24 jam terakhir. Namun, data pelacakan kapal menunjukkan volume lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut masih sangat terbatas.

Sentimen negatif ini langsung menekan bursa saham global. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3%, sementara Nasdaq futures melemah 0,5%.

Indeks Nikkei Jepang tercatat merosot 1% pada perdagangan pagi ini. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif setelah pekan lalu indeks tersebut terkoreksi sebesar 1,7%.

Pasar saham Korea Selatan juga mengalami tekanan dengan koreksi sebesar 0,4%. Investor global kini mengamati pasar Korea sebagai indikator penting bagi sektor chip global setelah anjlok hampir 8% sepanjang pekan lalu.

Kenaikan harga energi memaksa pelaku pasar menghitung ulang peluang kebijakan moneter The Fed. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,59%.

Kontrak Fed Funds kini mengindikasikan adanya pengetatan suku bunga sekitar 34 basis poin hingga akhir tahun. Fokus pasar tertuju pada kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres serta data inflasi AS periode Juni yang akan dirilis Selasa (14/7).

Meskipun inflasi diprediksi melambat ke level 4,2% karena penurunan harga bensin, reli harga minyak dapat kembali menekan harga konsumen. Di pasar valuta asing, indeks dolar AS menguat ke level 101,12.

Euro melemah tipis ke US$1,1403 karena ekonomi Eropa dinilai lebih rentan terhadap kenaikan harga energi. Sementara itu, harga emas turun 1,1% menjadi US$4.076 per ons akibat kenaikan imbal hasil obligasi.

Investor tetap berharap pada kinerja emiten yang solid menjelang musim laporan keuangan kuartalan. Bank-bank besar AS dijadwalkan memulai laporan kinerja pada Selasa, diikuti oleh Netflix dan General Electric.