Tutup
EkonomiNews

KKP Pacu Nila Jadi Komoditas Ekspor Andalan

61
×

KKP Pacu Nila Jadi Komoditas Ekspor Andalan

Sebarkan artikel ini
chicken-of-the-sea-kini-jadi-salah-satu-komoditas-ekspor-andalan-indonesia
Chicken of The Sea Kini Jadi Salah Satu Komoditas Ekspor Andalan Indonesia

Jakarta – Ikan nila atau tilapia semakin menempati posisi penting dalam peta ekspor perikanan Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menilai lonjakan permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa menjadi faktor utama yang mendorong komoditas ini kian diburu pasar global.

Untuk menjaga momentum itu, pemerintah mempercepat peningkatan produksi tilapia nasional. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, dua program utama tengah dijalankan, yakni pengembangan kawasan budi daya ikan nila salin (BINS) di Karawang dan revitalisasi tambak di pesisir utara Jawa atau Pantura.

“Dua program itu untuk meningkatkan kapasitas produksi nila nasional sekaligus memastikan seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional yang berlaku,” kata Trenggono dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Di pasar internasional, tilapia punya modal kuat untuk terus tumbuh. Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Erwin Dwiyana, menilai ikan ini mudah diterima konsumen karena rasanya ringan, gampang diolah, dan kaya protein.

Ia menyebut, tilapia bahkan dijuluki chicken of the sea karena kandungan proteinnya bisa mencapai 20 hingga 29 gram per 100 gram sajian. Selain rendah lemak jenuh, ikan ini juga mengandung Omega-3, 6, dan 9, vitamin B12, serta sejumlah mineral yang bermanfaat bagi tubuh.

“saat ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang nol penolakan,” ujar Erwin.

Kepercayaan pasar, kata dia, dibangun lewat kepatuhan terhadap standar mutu yang ketat. Produk Indonesia harus melewati sertifikasi seperti GMP-SSOP, HACCP, health certificate, ISO 22000, SQF, BAP, ASC, hingga BRC agar bisa diterima di negara tujuan ekspor tanpa kendala.

Di tingkat industri, Regal Springs Indonesia menjadi salah satu contoh pelaku usaha yang berhasil menembus pasar premium luar negeri. Perusahaan ini kini memasok jaringan pub besar di Inggris, Greene King.

Direktur Regal Springs Indonesia Tri Dharma Saputra mengatakan capaian itu tak lepas dari penerapan sertifikasi, termasuk Aquaculture Stewardship Council atau ASC. Menurut dia, sertifikasi tersebut mendorong perubahan besar dalam praktik budidaya.

“Dengan adanya ASC, budi daya perikanan dituntut bertransformasi. Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi, mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan,” ujarnya.

Tri menambahkan, penerapan sistem itu membuat tilapia Indonesia bukan hanya unggul dari sisi mutu, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.Di Inggris,ikan ini diolah menjadi berbagai menu,mulai dari fish and chips hingga sajian boneless untuk segmen fine dining,dengan tingkat keluhan konsumen yang rendah.

Dari sisi harga,tilapia juga dinilai kompetitif. Posisi ini membuatnya mampu bersaing dengan ikan putih lain yang lebih dulu mapan di pasar dunia, seperti kod dan trout.