FintechTeknologi

Memperkuat Kepercayaan Digital Menghadapi Ancaman Manipulasi AI

122
×

Memperkuat Kepercayaan Digital Menghadapi Ancaman Manipulasi AI

Sebarkan artikel ini
ai-bisa-meniru-wajah-dan-suara,-begini-cara-memastikan-identitas-asli-agar-tak-terjebak-scam
AI Bisa Meniru Wajah dan Suara, Begini Cara Memastikan Identitas Asli Agar Tak Terjebak Scam

Jakarta – Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi pedang bermata dua bagi keamanan digital. Ancaman utama datang dari fenomena deepfake yang mampu meniru wajah, suara, hingga ekspresi manusia dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Modus ini sering dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan dengan menyamar sebagai pihak lain. Akibatnya, metode verifikasi konvensional seperti pengenalan foto atau suara tidak lagi dianggap cukup untuk memastikan keaslian identitas seseorang.

Situasi tersebut menempatkan digital trust atau kepercayaan digital sebagai fondasi utama dalam setiap aktivitas daring. Berbagai sektor, mulai dari komunikasi bisnis hingga transaksi keuangan, kini sangat bergantung pada integritas identitas digital dalam menjaga keamanan mereka.

CEO dan Founder Privy, Marshall Pribadi, menekankan bahwa kepercayaan telah menjadi mata uang utama dalam interaksi digital saat ini. Menurutnya, sistem yang mampu menjamin autentikasi dokumen serta identitas menjadi kebutuhan mendesak di tengah masifnya penggunaan teknologi AI.

“Semakin banyak keputusan, transaksi, hingga proses bisnis yang bergantung pada identitas yang terpercaya dan dokumen digital yang autentik. Hal ini membuat kebutuhan terhadap digital trust menjadi semakin penting,” ujar Marshall dalam gelaran MatchCAP Singapore 2026.

Industri kini merespons tantangan manipulasi identitas tersebut dengan mengembangkan sistem verifikasi yang lebih komprehensif. Konsep digital trust diterapkan melalui tiga lapisan pengamanan untuk memperkuat ekosistem digital.

Pertama, Trusted Identity yang memastikan verifikasi akurat bagi individu maupun institusi. Kedua, Trusted Communication Channel guna menjamin keamanan saluran pertukaran informasi. Ketiga, Trusted Transaction Authenticity yang memastikan setiap aktivitas memiliki bukti autentik yang dapat ditelusuri.