Tutup
EkonomiPerbankan

Suku Bunga Kredit Melambat, LPS Ungkap Faktor Penghambat

306
×

Suku Bunga Kredit Melambat, LPS Ungkap Faktor Penghambat

Sebarkan artikel ini
bos-lps-ungkap-pemicu-kredit-perbankan-lesu-meski-bi-rate-dipangkas
Bos LPS Ungkap Pemicu Kredit Perbankan Lesu Meski BI Rate Dipangkas

Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyoroti lambatnya penurunan suku bunga kredit perbankan. Padahal, Bank Indonesia (BI) telah menurunkan BI rate menjadi 4,75 persen.

Bank sentral sendiri telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin (bps) sepanjang 2025, dari level 6 persen.

Ketua Dewan Komisioner LPS,Anggito Abimanyu,menyebut salah satu penyebabnya adalah tingginya porsi simpanan nasabah yang menerima bunga di atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP).

“Saat ini ada sekitar 30 persen simpanan yang di antaranya special rate. Itu salah satu yang membuat suku bunga pinjaman tidak bisa turun sesuai yang diharapkan,” kata Anggito dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (10/2).

Data LPS menunjukkan, porsi simpanan di atas TBP mencapai Rp3.336 triliun,atau sekitar 30 persen dari total dana simpanan nasabah sebesar Rp13.424 triliun.

Dari jumlah tersebut, korporasi swasta mendominasi dengan 50,31 persen. Diikuti dana pemerintah dan BUMN sebesar 22,77 persen, nasabah individu 22,69 persen, dan lainnya 4,23 persen.

Anggito menambahkan, penurunan suku bunga kredit perbankan baru mencapai sekitar 0,5 persen. Padahal, BI telah menurunkan suku bunga sebesar 75 bps hingga akhir tahun lalu.

“Jadi saya sudah sampaikan bahwa BI sudah turunkan 75 bps tapi baru turun 0,5 persen suku bunga perbankan. Jadi transmisinya lambat,” ungkapnya.

Sebelumnya, BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 masih di kisaran 8-12 persen. Meski Moody’s memangkas outlook utang Pemerintah Indonesia dari stabil ke negatif.

Pontianak – Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Alexander Lubis, menyatakan masih ada peluang pertumbuhan kredit lebih tinggi dari tahun lalu (9,69 persen).

“outlook kredit masih 8-12 persen karena semua variabel dan indikator lainnya masih menunjukkan hal-hal yang membuat kita bertahan di bilangan proyeksi itu,” ujar Alexander dalam forum di Pontianak, Kalimantan Barat, jumat (6/2).