Bursa Saham

Ekspor Nikel Turun, Emiten Tetap Berpeluang Catatkan Kinerja Positif

44
×

Ekspor Nikel Turun, Emiten Tetap Berpeluang Catatkan Kinerja Positif

Sebarkan artikel ini
Tumpukan bijih nikel di area pertambangan Indonesia yang dipersiapkan untuk proses ekspor global.
Emiten produsen nikel diprediksi tetap mencatatkan kinerja positif meski volume ekspor mengalami penurunan.

JAKARTA – Emiten produsen nikel di Indonesia diprediksi masih memiliki peluang untuk membukukan kinerja keuangan yang impresif sepanjang tahun 2026, meski dihadapkan pada tantangan perlambatan volume ekspor produk olahan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor nikel turun sebesar 12,14% secara tahunan (yoy) menjadi 1,06 juta ton pada periode Januari hingga Juni 2026. Namun, nilai ekspor justru melonjak 69,30% yoy menjadi US$ 6,54 miliar pada periode yang sama.

Kenaikan nilai ekspor tersebut didorong oleh tingginya harga jual nikel di pasar global yang mampu mengompensasi penurunan volume. Berdasarkan data Trading Economics per Senin (10/8), harga nikel dunia berada di level US$ 16.954 per ton, meningkat 10,63% secara tahunan.

Di sisi lain, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melalui forum Strategic Response Meeting memperingatkan potensi hilangnya nilai ekspor nikel nasional sebesar US$ 3,5 miliar hingga US$ 5 miliar pada tahun ini. Risiko ini dipicu oleh ketidaksesuaian kuota produksi, kenaikan royalti Izin Usaha Pertambangan (IUP), hingga kendala pada utilisasi smelter.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyatakan bahwa emiten perlu mempercepat hilirisasi ke produk bernilai tambah tinggi seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat. Optimalisasi kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta diversifikasi komoditas menjadi kunci untuk menjaga stabilitas margin.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai sebagai emiten dengan prospek paling menarik. ANTM memiliki target produksi bijih nikel sebesar 18,1 juta wet metric ton (wmt) pada 2026, meningkat dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 16,11 juta wmt.

Diversifikasi ANTM ke sektor emas juga menjadi penyangga (buffer) yang kuat bagi kinerja perusahaan. Analis merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga antara Rp 3.420 hingga Rp 4.900 per saham.

Selain ANTM, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turut mencuri perhatian melalui integrasi vertikal ke produk MHP melalui anak usahanya, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Produk MHP dianggap mampu memberikan margin yang lebih stabil di tengah fluktuasi pasar.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menambahkan bahwa penurunan volume ekspor tidak serta-merta menjadi sinyal pelemahan kinerja seluruh emiten. Risiko baru akan muncul jika penurunan volume dibarengi dengan koreksi harga nikel secara signifikan.

Pasar saat ini juga mewaspadai tekanan pada harga jual bijih nikel yang diprediksi terjadi pada kuartal III-2026. Kenaikan biaya operasional dan bahan bakar turut membatasi kemampuan smelter dalam menyerap harga bijih nikel yang tinggi.

Ke depannya, para pelaku pasar diminta mencermati ketidakpastian regulasi terkait tarif royalti dan kebijakan RKAB. Faktor-faktor tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kelangsungan usaha emiten nikel di tengah dinamika pasar komoditas global.