Bursa Saham

IHSG Melemah ke 6.365, Saham CUAN hingga INDY Pimpin Top Losers

93
×

IHSG Melemah ke 6.365, Saham CUAN hingga INDY Pimpin Top Losers

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di layar monitor bursa efek
IHSG ditutup melemah 0,69% ke level 6.365 pada perdagangan Senin (10/8/2026).

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Senin (10/8/2026) di zona merah dengan koreksi sebesar 44,28 poin atau 0,69% ke level 6.365,37. Pelemahan ini terjadi di tengah dinamika pasar modal yang diwarnai oleh aksi jual pada mayoritas sektor saham.

Data perdagangan mencatat sebanyak 329 saham mengalami penurunan harga. Sementara itu, 287 saham tercatat menguat dan 180 saham lainnya stagnan.

Aktivitas transaksi di bursa domestik terpantau cukup tinggi. Total volume perdagangan mencapai 46,61 miliar saham dengan nilai transaksi keseluruhan menyentuh Rp 18,02 triliun.

Secara sektoral, tekanan jual melanda hampir seluruh lini bisnis. Sebanyak 10 indeks sektoral mencatatkan pelemahan seiring dengan tren negatif IHSG pada hari ini.

Sektor barang konsumen non-siklikal menjadi penekan utama indeks dengan koreksi sebesar 1,37%. Sektor infrastruktur menyusul dengan pelemahan 1,25%, diikuti oleh sektor perindustrian yang turun 0,74%.

Di sisi lain, sektor transportasi menjadi satu-satunya indeks sektoral yang mampu bertahan di zona hijau. Sektor ini mencatatkan penguatan signifikan sebesar 6,21% di tengah tekanan pasar yang luas.

Pada jajaran saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) memimpin daftar penguatan dengan kenaikan 7,87%. Posisi tersebut diikuti oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar 3,40% dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) sebesar 2,33%.

Sebaliknya, beberapa saham LQ45 mengalami tekanan jual yang cukup dalam. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi top losers dengan penurunan 4,05%.

Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga mencatatkan koreksi sebesar 3,63%. Sementara itu, PT Indika Energy Tbk (INDY) melengkapi daftar pelemahan dengan penurunan 3,33%.

Kinerja pasar saham hari ini kontras dengan pergerakan mata uang rupiah. Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan yang signifikan pada perdagangan hari yang sama.

Penguatan rupiah ini didorong oleh meredanya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Sentimen global tersebut memberikan tekanan yang berbeda terhadap pasar saham dan pasar mata uang domestik.

Para pelaku pasar kini tengah menantikan arah kebijakan moneter lebih lanjut yang akan mempengaruhi volatilitas pasar ke depan. Proyeksi nilai tukar rupiah untuk perdagangan Selasa (11/8/2026) diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.750 per dolar AS.

Kondisi pasar yang fluktuatif ini menuntut investor untuk lebih selektif dalam menempatkan modal. Diversifikasi aset tetap menjadi strategi utama dalam menghadapi ketidakpastian sentimen global yang membayangi pergerakan IHSG.