Tutup
News

DPR Optimis Defisit Perdagangan RI-Australia Bisa jadi Surplus, Ini Alasannya

243
×

DPR Optimis Defisit Perdagangan RI-Australia Bisa jadi Surplus, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini
dpr-optimis-defisit-perdagangan-ri-australia-bisa-jadi-surplus,-ini-alasannya
DPR Optimis Defisit Perdagangan RI-Australia Bisa jadi Surplus, Ini Alasannya

Jakarta – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, nurdin Halid, menyoroti potensi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) dalam meningkatkan neraca perdagangan. ia optimis, dengan sinergi dan inovasi, defisit perdagangan dapat diubah menjadi surplus.

Optimisme tersebut disampaikan Nurdin di sela-sela kunjungan pimpinan Komisi VI DPR RI dan para ketua Kelompok Fraksi VI ke Canberra dan Melbourne, Australia, pada 8-12 Agustus 2025.Kunjungan tersebut turut melibatkan sejumlah BUMN yang terkait langsung dengan kerja sama bisnis dan perdagangan Indonesia-Australia.Nurdin menjelaskan, Indonesia perlu memaksimalkan IA-CEPA untuk memperluas perdagangan dan investasi, mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen, serta mendorong Indonesia masuk lima besar ekonomi dunia pada 2030.

“UU Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pengesahan IA-CEPA terbukti mampu menggerek ekspor dan investasi Indonesia. Nilai ekspor kita ke Australia naik dua kali lipat dalam lima tahun terakhir,” kata Nurdin dalam keterangannya, Selasa (12/8/2025).

Data dari Atase Perdagangan RI di Canberra menunjukkan, ekspor Indonesia ke Australia pada 2024 mencapai US$ 5,59 miliar (Rp 89,44 triliun), sementara impor dari Australia sebesar US$ 7,88 miliar. Total perdagangan kedua negara tahun lalu mencapai US$ 13,47 miliar. Komoditas utama ekspor Indonesia meliputi besi, baja, mesin, peralatan listrik, migas, pupuk, produk kayu, pakaian, produk kimia, dan otomotif.

Nurdin menilai, dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat membalik defisit perdagangan menjadi surplus. IA-CEPA dapat dimanfaatkan untuk menjadikan Australia sebagai hub distribusi komoditas ekspor Indonesia ke kawasan Pasifik.”Indonesia-Australia adalah dua mitra utama ekonomi di Indo-Pasifik. Australia bisa menjadi pusat logistik dan distribusi produk Indonesia di kawasan ini,” tegasnya.Lebih lanjut, Nurdin mengungkapkan beberapa faktor yang mendasari keyakinannya. Pertama, keunggulan komparatif produk Indonesia, di mana ekspor nonmigas ke Australia tumbuh 60,58 persen pada 2024, terutama dari makanan-minuman, produk pertanian, perkebunan, kerajinan, tekstil, rotan, dan dekorasi rumah.

Kedua, kedekatan geografis yang membuat biaya logistik lebih efisien.Ketiga,manfaat IA-CEPA yang mengurangi tarif,membuka akses pasar,mempercepat proses bisnis,dan menciptakan lapangan kerja. Total perdagangan naik dari Rp 185 triliun (2019) menjadi Rp 382 triliun (2024).

Keempat, kekuatan diaspora, di mana 135 ribu warga Indonesia di Australia dapat menjadi konsumen sekaligus agen promosi produk dalam negeri. Selanjutnya, potensi UMKM, sekitar 62 juta pelaku UMKM dan dukungan Koperasi Desa-Kelurahan Merah Putih serta BPI Danantara berpeluang besar menjadi sumber pasokan komoditas ekspor unik dan bernilai tambah. “Kedekatan hubungan bilateral, Posisi strategis Indonesia di mata Australia penting bagi aspek geoekonomi dan geostrategi kawasan,” pungkasnya.