Tutup
Regulasi

Alasan Emiten Ramai Melakukan Buyback Saham Saat Pasar Volatil

223
×

Alasan Emiten Ramai Melakukan Buyback Saham Saat Pasar Volatil

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Sejumlah emiten dengan arus kas kuat kini semakin gencar melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau *buyback* di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus menunjukkan optimisme manajemen terhadap fundamental perusahaan.

Terbaru, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berencana melakukan *buyback* dengan anggaran hingga Rp750 miliar. Aksi ini menunggu persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk periode pelaksanaan mulai 22 Mei 2026 hingga 21 Mei 2027.

Sebelumnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) juga telah mengumumkan rencana *buyback* jumbo senilai Rp2 triliun pada akhir Maret 2026. Perusahaan lain yang turut menjalankan aksi serupa meliputi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan dana Rp500 miliar, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) sebesar US$3,52 juta, PT IMC Pelita Logistik Tbk (IMPC) sebesar Rp50 miliar, serta PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) senilai Rp20 miliar.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mengungkapkan tiga faktor utama yang memicu maraknya aksi ini. Pertama, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyebabkan harga banyak saham turun hingga di bawah nilai fundamentalnya.

Kedua, kondisi kas emiten besar seperti UNTR, KLBF, dan INTP yang sangat solid memungkinkan mereka melakukan *buyback* dalam jumlah besar. Ketiga, *buyback* menjadi opsi penggunaan kas yang lebih efisien di tengah ketidakpastian makroekonomi dibandingkan memaksakan belanja modal (*capex*) baru.

Dari sisi kinerja, aksi *buyback* dinilai mampu meningkatkan *earnings per share* (EPS) dan *return on equity* (ROE) karena berkurangnya jumlah saham beredar. Hal ini secara organik dapat memicu *rerating* valuasi perusahaan.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menyebut bahwa *buyback* mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap prospek bisnis jangka panjang. Secara jangka pendek, aksi ini berpotensi mengerek harga saham, meski ia mengingatkan bahwa pergerakan pasar tetap sangat bergantung pada sentimen global dan dinamika geopolitik.

Bagi investor, momentum terbaik untuk masuk tidak selalu saat pengumuman dilakukan, karena harga biasanya sudah terlanjur bereaksi. Investor disarankan memanfaatkan periode setelah euforia mereda untuk melakukan akumulasi.

Terkait rekomendasi, Arinda menyoroti saham INTP, KLBF, dan UNTR sebagai pilihan menarik untuk jangka panjang. Sementara itu, Abida secara khusus merekomendasikan UNTR karena proyeksi arus kas bebas yang kuat serta diversifikasi bisnis di sektor emas, serta KLBF yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan laba dua digit yang konsisten.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks selama sepekan lalu masih menjadi saham yang paling banyak dijual asing. Aksi jual asing tersebut membuat pergerakan saham emiten big banks kompak ikut menurun. Diantara saham big banks yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), saham yang turun paling tajam adalah saham…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) akan berganti kepemilikan. Perusahaan yang bergerak di bidang industries barang dari plastik untuk pengemasan ini menjelaskan, rencana tersebut setelah pihaknya mengetahui bahwa pemegang saham pengendali lama telah menandatangani perjanjian untuk menjual seluruh sahamnya. “Kami sampaikan bahwa pada hari Senin, 25 Mei 2026, telah dilakukan penandatanganan Pengikatan Jual Beli…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membukukan penurunan laba bersih sepanjang kuartal I tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis akhir pekan lalu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 4,34 triliun, menurun 21,8% secara tahunan. Ini sejalan dengan laba periode berjalan turun sebesar 17,57% secara year on year (yoy) menjadi Rp 6,05 triliun. Penurunan laba bersih…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan di zona merah pada hari terakhir bulan Mei 2026. Pada Jumat (29/5/2026), IHSG turun tipis 0,05% ke level 6.127,38. Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini telah anjlok 29,14%. Tekanan pasar kali ini terutama dipicu oleh efektifnya rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berlaku pada…