Tutup
EkonomiInvestasiNewsTransportasi

Ekonom Bedah Tuntas Negosiasi Kereta Cepat Whoosh-China

241
×

Ekonom Bedah Tuntas Negosiasi Kereta Cepat Whoosh-China

Sebarkan artikel ini
pakar-ekonom beberkan-negosiasi-panjang-dengan-china-soal-whoosh:-kita-harus-tanggung-bareng
Pakar Ekonom Beberkan Negosiasi Panjang dengan China soal Whoosh: Kita Harus Tanggung Bareng

Jakarta – Pemerintah Indonesia dan China tengah berunding intensif soal restrukturisasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. Tujuannya, meringankan beban keuangan Indonesia dalam proyek ini.

Septian Hario Seto, anggota Dewan Ekonomi Nasional 2024-2029, menegaskan prinsip business to business (B2B) menjadi kunci dalam negosiasi.

“Kita pertahankan spirit, B2B-nya ya. Karena ini dulu spiritnya di awal ya, ini kita harus tetap pegang teguh,” kata Seto, seperti dikutip dari tvOne, Senin (27/10/2025).

Pemerintah Indonesia, lanjut Seto, telah berdiskusi dengan Menteri Keuangan dan pihak terkait. Tujuannya menjaga mekanisme kerja sama B2B antara Indonesia dan China.

“Ini memang harus dikedepankan dengan Tiongkok B2B, dan Tiongkok juga mengerti karena kan dia juga 40% pemegang saham,” ujarnya.

Dengan struktur saham tersebut,kedua pihak harus berbagi tanggung jawab dan bernegosiasi dengan bank untuk mencari solusi terbaik.

Langkah-langkah yang dibahas termasuk perpanjangan masa restrukturisasi, penyesuaian kurs, dan penurunan suku bunga pinjaman.

“jadi walaupun ini lebih panjang, tapi suku bunganya kita turunin,” jelas Seto.

Seto mengakui negosiasi dengan China tidak selalu mudah. Namun, ia menegaskan negosiasi dilakukan dengan prinsip adil dan realistis.

Ia menekankan, jika restrukturisasi gagal disepakati, operasional Whoosh bisa terhenti karena ketidakmampuan membayar kewajiban.

Meski demikian, Seto menilai pihak China memahami posisi Indonesia. Ia menyebut kinerja operasional KCJB cukup baik, bahkan lebih unggul dari proyek sejenis di negara lain.

“Ya saya kira mereka make sense kok. Karena tadi, ini operasionalnya berjalan dengan bagus, laba operasionalnya ada, lebih bagus dari apa yang ada di Tiongkok. Enggak ada alasan,” ujarnya.

Seto juga menyinggung bahwa proyek kereta cepat adalah investasi jangka panjang. Ia mencontohkan proyek serupa di Jepang yang telah beroperasi selama lebih dari enam dekade.

“Kalau kita berkaca yang di Jepang ya, di Jepang kereta cepat pertama 1964 sampai sekarang 2025, 61 tahun, itu jalurnya masih ada. Ini pun sama,” pungkasnya.