Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto akan memaparkan konsep ‘Prabowonomics’ dalam forum global World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos.
Konsep perekonomian yang menjadi visi dan pemikiran Prabowo ini akan menjadi sorotan utama.
Lantas, apa sebenarnya ‘Prabowonomics’?
istilah ini mulai mencuat saat kampanye Pilpres 2024 lalu.
Sejumlah pengamat ekonomi, analis pasar modal, hingga media turut menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan pendekatan ekonomi Prabowo.
‘Prabowonomics’ juga digunakan untuk membedakan gaya kepemimpinan Prabowo dengan ‘Jokowinomics’ yang diterapkan oleh presiden sebelumnya.
‘Prabowonomics’ mencakup program kerja yang disiapkan Prabowo selama kampanye dan akan diimplementasikan selama masa jabatannya.
Memasuki tahun 2026, kebijakan ini bukan lagi sekadar janji kampanye, melainkan kerangka kerja operasional yang berfokus pada kemandirian (swasembada) dan pertumbuhan ekonomi inklusif.
Secara garis besar, ‘Prabowonomics’ merupakan kombinasi dari kelanjutan program hilirisasi era Jokowi, pembangunan sumber daya manusia, serta ketahanan pangan dan energi.
Berikut adalah inti dari ‘Prabowonomics’:
- Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
‘Prabowonomics’ menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen per tahun untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).
Target ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja yang signifikan.
Upaya untuk mencapai target tersebut meliputi peningkatan investasi, deregulasi birokrasi, serta penguatan peran BUMN dan sektor swasta sebagai mesin pertumbuhan.
- Program Makan Bergizi gratis (MBG)
Program unggulan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
MBG dianggap sebagai investasi pemerintah dalam membentuk SDM berkualitas di masa depan.
Program ini diharapkan menciptakan efek berganda (multiplier effect) di tingkat lokal, melalui pemberdayaan UMKM pemasok bahan pangan dan penciptaan lapangan kerja baru di sektor distribusi makanan.
- Hilirisasi dan Industrialisasi Masif
‘Prabowonomics’ memperluas cakupan hilirisasi tidak hanya pada komoditas nikel, tetapi juga tembaga, bauksit, timah, serta sektor pertanian dan kelautan.
Tujuannya adalah agar Indonesia tidak lagi mengekspor bahan mentah,melainkan barang jadi atau setengah jadi yang memiliki nilai tambah tinggi.
- swasembada Pangan, Energi, dan Air
prabowo meyakini bahwa kedaulatan suatu bangsa diukur dari kemampuannya memberi makan rakyat tanpa bergantung pada impor.
Hal ini mendasari program pemerintah untuk membuka lumbung pangan (food estate) yang modern dan efisien.
Di sektor energi dan air, ‘Prabowonomics’ mendorong peningkatan penggunaan biodiesel (seperti B50 atau lebih tinggi) dan pemanfaatan energi terbarukan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
- Pengentasan Kemiskinan Langsung
Pilar terakhir dari ‘Prabowonomics’ ini mempertahankan skema bantuan sosial dengan target yang lebih presisi menggunakan data tunggal.
Tujuannya adalah menghapus kemiskinan ekstrem melalui kombinasi bantuan tunai, perbaikan rumah layak huni, dan akses kesehatan.







