Investasi

Primaya Hospital Tingkatkan Kepemilikan di Jala Mas Jadi 93,91%

57
×

Primaya Hospital Tingkatkan Kepemilikan di Jala Mas Jadi 93,91%

Sebarkan artikel ini
Logo Primaya Hospital di gedung rumah sakit dengan latar belakang perkotaan
PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk resmi meningkatkan kepemilikan saham di PT Jala Mas Putra Rejeki menjadi 93,91 persen.

JAKARTA – PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY), yang dikenal sebagai pengelola jaringan Primaya Hospital Group, resmi meningkatkan porsi kepemilikan sahamnya pada PT Jala Mas Putra Rejeki (JMPR) menjadi 93,91 persen. Langkah strategis ini ditempuh melalui mekanisme konversi utang tahap kedua sebagai bagian dari Perjanjian Utang Wajib Konversi yang telah disepakati sebelumnya.

Proses konversi saham ini dieksekusi setelah JMPR mengantongi persetujuan perubahan anggaran dasar pada 27 Juli 2026. Aksi korporasi ini merupakan kelanjutan dari perjanjian yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak sejak September 2025.

Direktur Famon Awal Bros Sedaya, Leona Agustine Karnali, menyatakan bahwa transaksi tersebut merupakan langkah taktis dalam memperluas jangkauan operasional perusahaan. Fokus utama manajemen adalah memperkuat posisi PRAY dalam pengelolaan serta kepemilikan jaringan rumah sakit di Indonesia.

Melalui peningkatan kepemilikan ini, PRAY mempertegas kendali operasional atas Rumah Sakit FMC Bogor dan Rumah Sakit UKRIDA. Kedua fasilitas kesehatan tersebut sebelumnya telah terintegrasi ke dalam jaringan Primaya Hospital sejak pelaksanaan konversi saham tahap pertama.

Manajemen menegaskan bahwa aksi korporasi ini tidak dikategorikan sebagai transaksi material maupun transaksi afiliasi. Nilai transaksi dinilai masih berada di bawah ambang batas rasio yang ditentukan oleh otoritas pasar modal, baik dari sisi aset, laba bersih, maupun pendapatan usaha.

Leona menambahkan bahwa langkah ini bertujuan untuk mendorong sinergi antar fasilitas kesehatan yang berada di bawah naungan grup. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan standar mutu layanan serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia dan medis secara lebih efisien.

Perusahaan memastikan bahwa transaksi ini tidak memberikan dampak negatif terhadap kondisi keuangan, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha perseroan secara keseluruhan. Sebaliknya, langkah ini diproyeksikan menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang dalam memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat.

Di tengah dinamika sektor kesehatan yang kompetitif, PRAY terus melakukan berbagai upaya penyesuaian strategi bisnis untuk menjaga kinerja keuangan. Sebagai perbandingan, sektor industri sejenis saat ini tengah menghadapi tantangan efisiensi, seperti yang dialami PT Chandra Daya (CDIA) yang mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 22,8 persen secara tahunan (yoy) menjadi US$ 82,1 juta pada semester I-2026.

Namun, tantangan profitabilitas tetap menjadi perhatian serius bagi pelaku industri di tengah fluktuasi ekonomi. Meskipun pendapatan meningkat, CDIA misalnya, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 74 persen pada periode yang sama.

Situasi makroekonomi saat ini turut memengaruhi sentimen pasar secara umum. Pada Rabu, 29 Juli 2026, pergerakan nilai tukar rupiah terpantau menguat tipis ke level Rp 18.082 per dolar AS, meski tekanan pelemahan masih membayangi.

Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan fluktuasi dengan kecenderungan melemah ke level 6.093,6 pada sesi perdagangan hari ini. Perusahaan yang tercatat di bursa, termasuk sektor rumah sakit, terus memantau kondisi pasar untuk menentukan langkah ekspansi selanjutnya.