Tutup
InvestasiPerbankan

IHSG Anjlok Dalam, MSCI Sentil, Regulator Gerak Cepat

100
×

IHSG Anjlok Dalam, MSCI Sentil, Regulator Gerak Cepat

Sebarkan artikel ini
ihsg-anjlok-dua-hari,-msci-jadi-alarm-transparansi-pasar-modal-ri
IHSG Anjlok Dua Hari, MSCI Jadi Alarm Transparansi Pasar Modal RI

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 8% dalam dua hari perdagangan terakhir.Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa melakukan trading halt dua kali akibat penurunan tajam ini.

Tekanan pada pasar saham dipicu oleh pernyataan Morgan Stanley capital International (MSCI) terkait evaluasi pasar saham Indonesia.

MSCI menyoroti isu transparansi dan likuiditas free float saham di pasar modal Indonesia.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan evaluasi MSCI ini bisa menjadi momentum bagi BEI dan regulator pasar modal untuk berbenah.

Head of retail Research MNC Sekuritas,Herditya Wicaksana,menilai pernyataan MSCI menjadi sentimen negatif yang menekan IHSG.

“dengan keluarnya pengumuman MSCI perihal pasar di Indonesia menjadi sentimen negatif, di mana kemarin dan hari ini tercatat IHSG terkoreksi cukup dalam dan sempat trading halt,” ujarnya.

Menurutnya, evaluasi MSCI seharusnya menjadi alarm bagi pemangku kebijakan, terutama terkait transparansi pasar.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI merespons kekhawatiran pasar dengan menggelar konferensi pers. Mereka berjanji menindaklanjuti evaluasi MSCI paling lambat Maret 2026.

“Hal ini merupakan langkah yang kami perkirakan cukup baik, terlebih untuk meredam sentimen yang ada sehingga investor mendapatkan gambaran apa yang akan dilakukan ke depannya,” kata Herditya.

Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, melihat tekanan di pasar saham dipicu kekhawatiran potensi keluarnya dana asing dalam jumlah besar jika saham Indonesia terdampak kebijakan MSCI.

“Di bawah MSCI itu ada dana sekitar US$13 miliar. Ketika ada ketakutan saham-saham ini keluar dari indeks, pasti akan ada pergerakan dana yang besar. Ini yang membuat IHSG turun signifikan,” jelas Ibrahim.

Ia menilai reaksi pasar bukan sekadar kepanikan sesaat,melainkan refleksi dari kekhawatiran yang sudah lama terakumulasi.

“Sudah ada alarm bahwa kok kenapa rupiahnya melemah, kok indeks harga saham gabungan terus mengalami kenaikan,” ungkapnya.

Tekanan semakin besar setelah lembaga pemeringkat menurunkan pandangan terhadap saham-saham Indonesia.

Executive Director CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai pernyataan MSCI merupakan sinyal risiko yang lebih luas, tidak hanya terkait pasar saham, tetapi juga stabilitas makroekonomi.

“Ini sinyal terhadap kondisi ke depan, terutama dari sisi risiko. Ini tidak lepas sebetulnya dari bagaimana stabilitas makroekonomi dikelola serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter ini mengelola dari sisi kebijakan,” kata Faisal.

Ia menilai pasar melihat persoalan yang lebih struktural, bukan sekadar respons atas kebijakan jangka pendek.

Faisal mengingatkan persepsi investor terhadap efektivitas pemerintah dan kualitas tata kelola sudah menjadi sorotan sejak tahun lalu.

“Jadi bagaimana persepsi daripada investor melihat pemerintah itu efektif menjalankan kebijakannya. Dan pertama melihat gap antara apa yang diomongkan dengan yang dilakukan. Dan juga efisiensi daripada kebijakannya termasuk juga governance di sini,” jelasnya.

faisal menilai kegelisahan pasar sebenarnya bukan fenomena baru. Kekhawatiran investor sudah terbentuk sejak tahun lalu dan beriringan dengan dinamika politik domestik, termasuk pergantian pemerintahan.

Menurut Faisal, tekanan dari global dan domestik saling memperkuat, sehingga risiko trading halt berulang masih terbuka dalam waktu dekat.

Di tengah volatilitas tinggi,pelaku pasar meminta investor ritel,khususnya pemula,untuk tidak gegabah.

Herditya menyarankan investor menerapkan strategi selektif dan disiplin.

“Untuk saat ini, investor diharapkan selective buy terlebih dahulu dan menerapkan disiplin pada pola trading agar terhindar dari kerugian yang terlalu besar,” ujarnya.

Ibrahim menilai pemulihan pasar sangat bergantung pada pembuktian ke depan, terutama soal independensi otoritas moneter dan konsistensi kebijakan pemerintah.

“Karena kepercayaan publik baik dari dalam negeri maupun luar negeri itu begitu besar, sehingga perlu ada intervensi dari OJK ke bawah. Tujuannya bahwa ini loh, saya serius. OJK sebagai bapaknya ini serius untuk mengawasi anak-anaknya. Sehingga MSCI ini pun juga terus melakukan koordinasi terus supaya mereka pun tidak menginginkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Ibrahim.

Ia mengingatkan, setelah koreksi tajam, IHSG tidak akan mudah kembali naik cepat seperti sebelumnya.

“Ingat bahwa indeks harga saham gabungan sudah menyentuh di level 9000-an.Kemudian jatuhnya cukup luar biasa. nanti pada saat ini sudah selesai, untuk naik lagi tidak mungkin akan secepat yang sebelumnya,” pungkasnya.