Tutup
EkonomiEnergiPerbankan

Pertamina Integrasikan Anak Usaha, Efisiensi Energi Nasional Meningkat

314
×

Pertamina Integrasikan Anak Usaha, Efisiensi Energi Nasional Meningkat

Sebarkan artikel ini
merger-subholding-pertamina-perkuat-kinerja-distribusi-energi-nasional
Merger Subholding Pertamina Perkuat Kinerja Distribusi Energi Nasional

Jakarta – PT Pertamina (Persero) terus berupaya meningkatkan efisiensi dan pelayanan dengan menggabungkan tiga anak usahanya menjadi subholding downstream. Langkah ini mendapat respons positif dari pengamat energi.

Direktur Eksekutif Reform mineral Institute, Komaidi Notonegoro, menilai merger PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS) akan memberikan banyak manfaat.

Salah satu manfaat utama adalah koordinasi operasional yang lebih cepat. Komaidi menjelaskan, penggabungan ini menyatukan seluruh fungsi bisnis dalam satu struktur, sehingga koordinasi menjadi lebih efisien.

“Sekarang sudah digabung,ini on use semua. Artinya sudah tidak ada transaksi antar lembaga karena sudah satu rumah,” ujarnya.

Pemanfaatan infrastruktur juga akan semakin optimal. Komaidi mencontohkan, penggunaan kapal pengangkut energi yang sebelumnya harus melalui kesepakatan bisnis antar perusahaan, kini dapat digunakan secara langsung.

“Kalau dulu Patra Niaga mau pakai shipping tergantung ketersediaan kapalnya. Sekarang karena sudah satu bagian, ketika butuh tinggal pakai,” terangnya.

Fleksibilitas produksi dan distribusi energi juga akan meningkat. Unit distribusi dapat langsung berkoordinasi dengan kilang untuk menyesuaikan produksi jika terjadi peningkatan kebutuhan bahan bakar tertentu.

“Kalau Patra Niaga perlu produk tertentu, misalnya kebutuhan Pertamax meningkat, mereka tinggal order ke bagian kilang,” imbuh Komaidi.

Integrasi bisnis hilir ini berpotensi memperkuat kemampuan Pertamina dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat, terutama saat terjadi lonjakan permintaan seperti pada periode Ramadan dan Idulfitri.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengungkapkan bahwa integrasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing perusahaan.

“Di tengah perubahan geopolitik, tuntutan transisi energi, dan persaingan global yang semakin ketat, Indonesia membutuhkan Pertamina yang lincah, kuat, dan terintegrasi,” kata Simon.

Pertamina menargetkan transformasi dalam lini bisnisnya melalui subholding downstream, khususnya yang terkait dengan peningkatan pelayanan ke masyarakat. Salah satunya, pada Lebaran 2026 mendatang.

Untuk menjaga layanan ke masyarakat selama Lebaran 2026, Pertamina akan menyiagakan Satuan Tugas Ramadhan dan Idul Fitri (Satgas RAFI) untuk menjamin ketersediaan dan kelancaran pasokan energi.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth Marcelino Verieza Dumatubun, mengatakan pihaknya sudah memprediksi permintaan BBM akan naik 12 persen selama periode tersebut.

Selain BBM, pihaknya juga memprediksi permintaan LPG naik 4 persen, avtur 2,8 persen, dan kerosene 4,2 persen.

Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, Pertamina menyiagakan 7.885 SPBU, 6.777 Pertashop,6.662 agen LPG, 757 SPBE, dan 223 agen minyak tanah.

Selain itu,Pertamina juga menyiagakan layanan pendukung di jalur potensial,seperti tol,wisata,dan jalur lalu lintas utama,berupa SPBU 24 jam,agen LPG siaga,layanan modular BBM,dan Kiosk Pertamina.

meskipun mendapat respons positif, sejumlah kalangan memberikan catatan kepada Pertamina terkait merger tersebut, terutama terkait komitmen untuk melakukan perbaikan tata kelola, transparansi, dan disiplin operasional.

Ekonom Indef, Abra Talattov, berharap pasca merger, Pertamina bisa memperbaiki tata kelola, transparansi, dan disiplin operasional anak usahanya.

“Publik tentu berharap konsolidasi ini benar-benar membuat Pertamina lebih sehat secara finansial, lebih efisien dalam distribusi energi, dan mampu menjaga stabilitas pasokan energi nasional,” kata Abra.